Subuh tadi, waktu sedang antar koran, Camry nabrak mobil di depan Brunetti. Lumayan keras. Bagian depan kiri cukup parah, sampe rodanya nyangkut. Kap depan agak terangkat, dan mesin mobil gak bisa distater. Padahal baru aja dua minggu lalu semua urusan mesin beres. Dan, baru hari selasa kemaren, starter-nya diganti yang baru. Mobil yang tertabrak, rusak bagian samping kanan depannya. Rodanya juga nyangkut. Tapi mesinnya masih bisa nyala. Pelajaran penting: Segera daftar asuransi waktu beli mobil.
Yang bikin tentram hati, semua kawan datang membantu. Erik dan Vince bantu menuntaskan antaran koran rute Drummond dan Leicester. Omar dan Belly bergantian menemani menunggu kedatangan towing truck. Nick, Rob, dan Vidi (para penguasa Gudang) kasih support lewat telpon dan urus pengaturan mobil buat ngoran. Kiki bantu antar jemput Fikhar ke sekolah. Bahkan, tetangga depan yang kerja di bengkel, ikut bantu periksa kerusakan dan kasih estimasi biaya perbaikan.
Ifa, meski awalnya shock, segera bisa menenangkan diri dan menguasai keadaan. Mental tahan banting dan pantang menyerahnya segera bangkit di saat krisis. Fikhar juga sangat supportive, ikut menenangkan ibunya waktu masih shock. Raeka juga turut menolong: bergembira ria sepanjang hari. Dan, untung ada Eyang, yang tanpa lelah main sama para gemblongs dari pagi sampai maghrib.
Hari ini, camry sial lagi. Tapi kami juga diingatkan kembali, banyak sahabat, kawan dan kerabat, juga tetangga yang selalu hadir dan membantu di saat-saat sulit seperti ini.
Showing posts with label Friends. Show all posts
Showing posts with label Friends. Show all posts
Oct 9, 2008
Sep 8, 2008
Belajar Baca Al Quran
Om Kiki jadi favorit anak-anak sejak beberapa minggu terakhir. Sejak dia jadi pendongeng kisah nabi-nabi dan sejarah agama Islam di acara mingguan belajar baca Quran untuk anak-anak. Bagi orang dewasa, terutama kawan-kawannya dekatnya, Om Kiki punya track record yang kurang memuaskan sebagai pencerita, penggosip apalagi pendongeng. Padahal bila dilihat dari kriteria utama tukang cerita, sesungguhnya dia memiliki semuanya: passionate, value oriented dan great sense of humors. Kekurangannya cuma satu, yang sayangnya sangat mendasar: ia pelupa. Sehingga, dalam banyak situasi ketika ia tengah antusias bercerita dan pendengar mulai terhanyut, sekonyong-konyong hening datang, cerita terputus dan ketegangan menunggu kilmaks berganti dengan rasa jengkel sekaligus penasaran bukan kepalang. Namun, lama kelamaan, yang justru ditunggu-tunggu dari Kiki-bercerita adalah momen anti-klimaks itu sendiri, yang pada akhirnya jadi trade mark orisinilnya.
Di acara Taman Pengajian Al Quran mingguan ini, sesi "Om Kiki Bercerita" diletakkan di akhir acara. Sebagai sesi yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Terutama Raushan dan Raeka fans beratnya. Pembukaan TPA adalah shalat maghrib berjamaah yang langsung dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan menu special bikinan tuan rumah yang dapat giliran. Setelah itu, baru masing-masing anak akan memegang juz 'ama dan belajar membaca Al Quran dengan panduan guru khusus atau orang tua yang ikut bergabung hari itu. Nah, tugas Om Kiki adalah pasca semua acara tersebut berlangsung. Om Kiki tetap masih sering lupa dengan detail dan alur cerita, bedanya para pemirsa cilik ini tak sedikitpun terganggu dengan itu, terhanyut passion Om Kiki mengisahkan sepak terjang nabi-nabi sepanjang zaman.
Rutinitas mingguan ini sudah berlangsung kira-kira tiga bulanan. Lokasinya bergiliran di rumah-rumah peserta belajar. Peserta utamanya adalah: Yazi, Izzat, Fikhar, Victra, Raushan, Raeka dan Rasha. Ada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi sukarelawan mengajar Taman Pengajian Al Quran di area kampung Indonesia di northern suburb. Untuk grup ini, pengajarnya Mba Daan. Kalau dia sedang berhalangan mengajar, para orang tualah yang bertugas menggantikan. Beberapa minggu belakangan, para orang tua yang lebih banyak berperan.
Acara mingguan ini sekaligus jadi ajang kumpul-kumpul, gosip dan makan-makan bagi para orang tua. Kadang yang lebih bersemangat dan sibuk menyambut hari H adalah mereka. Sejak pembukaan TPA di rumah Uni Dina, hidangan yang disajikan langsung nyangkut di standar tinggi. Hari itu, semua peserta menyantap soto betawi ala Howson Street. Acara di Darlington baru berlangsung satu kali, dengan menu utama Iga Garang Asem ala Tumifa, yang langsung terkenal kelezatannya seantero melbourne northern inner suburb, sampai menjadi menu andalan pengajian PBrunswick menjelang Ramadhan kemarin.
Kiki dan Oci, di rumahnya yang baru di Blyth, menghidangkan ayam bumbu balado ijo ala Oci. Baim dan Nana tak kalah seru, menyajikan hidangan jepang + korea. TPA terkini berlangsung di rumah Uni Dina, sekalian buka puasa bersama, dengan sajian andalan Soto Padang plus macam-macam penganan pembuka.
Alhasil, acara TPA ini memang jadi multiagenda. Sambil anak-anak belajar agama dan Al Quran, para orang dewasa mengasah kepekaan sosial melalui gosip-gosip mutakhir dan memanjakan lidah dengan makanan yang sedap dan beraneka rasa.
Di acara Taman Pengajian Al Quran mingguan ini, sesi "Om Kiki Bercerita" diletakkan di akhir acara. Sebagai sesi yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Terutama Raushan dan Raeka fans beratnya. Pembukaan TPA adalah shalat maghrib berjamaah yang langsung dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan menu special bikinan tuan rumah yang dapat giliran. Setelah itu, baru masing-masing anak akan memegang juz 'ama dan belajar membaca Al Quran dengan panduan guru khusus atau orang tua yang ikut bergabung hari itu. Nah, tugas Om Kiki adalah pasca semua acara tersebut berlangsung. Om Kiki tetap masih sering lupa dengan detail dan alur cerita, bedanya para pemirsa cilik ini tak sedikitpun terganggu dengan itu, terhanyut passion Om Kiki mengisahkan sepak terjang nabi-nabi sepanjang zaman.
Rutinitas mingguan ini sudah berlangsung kira-kira tiga bulanan. Lokasinya bergiliran di rumah-rumah peserta belajar. Peserta utamanya adalah: Yazi, Izzat, Fikhar, Victra, Raushan, Raeka dan Rasha. Ada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi sukarelawan mengajar Taman Pengajian Al Quran di area kampung Indonesia di northern suburb. Untuk grup ini, pengajarnya Mba Daan. Kalau dia sedang berhalangan mengajar, para orang tualah yang bertugas menggantikan. Beberapa minggu belakangan, para orang tua yang lebih banyak berperan.
Acara mingguan ini sekaligus jadi ajang kumpul-kumpul, gosip dan makan-makan bagi para orang tua. Kadang yang lebih bersemangat dan sibuk menyambut hari H adalah mereka. Sejak pembukaan TPA di rumah Uni Dina, hidangan yang disajikan langsung nyangkut di standar tinggi. Hari itu, semua peserta menyantap soto betawi ala Howson Street. Acara di Darlington baru berlangsung satu kali, dengan menu utama Iga Garang Asem ala Tumifa, yang langsung terkenal kelezatannya seantero melbourne northern inner suburb, sampai menjadi menu andalan pengajian PBrunswick menjelang Ramadhan kemarin.
Kiki dan Oci, di rumahnya yang baru di Blyth, menghidangkan ayam bumbu balado ijo ala Oci. Baim dan Nana tak kalah seru, menyajikan hidangan jepang + korea. TPA terkini berlangsung di rumah Uni Dina, sekalian buka puasa bersama, dengan sajian andalan Soto Padang plus macam-macam penganan pembuka.
Alhasil, acara TPA ini memang jadi multiagenda. Sambil anak-anak belajar agama dan Al Quran, para orang dewasa mengasah kepekaan sosial melalui gosip-gosip mutakhir dan memanjakan lidah dengan makanan yang sedap dan beraneka rasa.
Aug 4, 2008
Dito Pulang...
Dito akhirnya pulang ke Jakarta, Rabu 23 Juli lalu. Setelah tertunda-tunda karena nilai ujian, akhirnya semua urusan beres sudah. Sejak senin Dito kami paksa nginep di Darlington. Supaya hari terakhirnya di Melbourne ada di rumah, bukan di kos. Dito juga menyambut dengan senang, alasannya sederhana: biar bisa tidur di kasur empuk dengan hembusan semilir angin hangat dari heater. Fasilitas dasar yang gak ada di apartemennya yang mewah di pusat kota.
Selasa pagi, Dito ikut ngoran. Nostalgia terakhir sebelum hengkang. (Dito dan Rival adalah dua orang yang sangat fanatik dengan pekerjaannya sebagai tukang koran. Mereka bisa ngobrol soal teknik melempar dan membahas alamat rumah selama berjam-jam dengan penuh antusias.) Waktu di gudang koran, Dito juga sekaligus pamitan dengan kawan-kawan sesama buruh pengantar koran. Tak lupa juga dengan Nick sang majikan.
Setelah loading, pagi itu, Dito bertindak selaku driver/pelempar dan Rival co-driver/penyelip ke mail box. Sepanjang ngoran tak habis-habisnya mereka berdua saling memuji teknik lemparan dan berbagi kisah pengalaman ngoran. Kalau saja ada candid camera, pasti suasana di cockpit camry itu sungguh aneh mengharukan: dua pria dewasa, suah menikah, umur 30an berbincang dengan girangnya tentang hal yang membosankan, saat subuh di tengah dinginnya winter.
Pada situasi itulah terjadi insiden tak terduga. Di rumah No. 163 Drummond St. Dito berhasil melempar age, fin dan sun rolled dengan sukses, diiring decak kagum Rival. Setelah itu giliran rumah No. 169, dengan semangat dan tanpa keraguan Dito menambatkan mobil dengan posisi menceng ke kiri di depan rumah itu. Lantas dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga menyambit age rolled dengan kencang ke arah pintu berwarna hijau. Saat menanti momen jatuhnya si koran, selintas kami berdua melihat sekelebat bayangan orang di pintu itu, berusaha menangkis koran yang meluncur deras dari tangan Dito. Jantung kita berdua sontak berhenti: wadaw, ternyata ada sang penghuni berdiri di depan pintu, sedang bersiap bawa anjingnya jalan-jalan pagi.
Bapak tua itu kontan berteriak marah sambil mengacung-ngacungkan tangannya yang sedang memegang tali kekang anjingnya. Samar-samar terdengar "how dare you... Do you want to kill me.. You've ...", gelegar marahnya segera menghilang di tengah pagi buta, sebab dengan tangkas bergegas Dito tancap gas pergi dari rumah itu, sambil mengangkat tangan dan mengucap "sorry sir...sorry...". Dengan jantung masih deg-degan, mereka melanjutkan antar koran pagi itu. Buat Dito, ini penutupan antar koran yang sangat berkesan. (Keesokan paginya ada notes dari Nick di lembar list pelanggan, "Be careful with 169 Drummond st. You hit the man yesterday, and broke the garden light on the weekend.")
Pulang ngoran, mampir dulu ke apartemen Dito di city. Ambil kunci dan ambil pakaian ganti. Di sana kenalan dengan penghuni baru pengganti Dito. Namanya Mulpi, anak Indo lulusan IPB yang udah dapet PR. Habis itu balik ke Darlington.
Menjelang sore Rival and Dito ke Cauffield, ambil pesanan Ika, yimca sedap buatan Mba Ati koki restoran Nusantara. Sambil menuju coburg, jemput Aria (PSHK) dulu di QV Mall di city. Aria lagi dateng ke Melbourne menemani rombongan hakim-hakim Mahkamah Agung. Di sana ternyata ketemu Mulpi juga yang lagi belanja di safeway. Alhasil, kita berempat beranjak menuju Darlington, untuk berkumpul bersama yang lain dalam rangka melepas kepulangan Dito ke Indo.
Sampai Darlington udah ada Kiki and Oci. Gak lama dateng Erik, Mayada and Belly (adik Mayada yang baru sampe di Melb). Baim juga kemudian dateng sama Izzat. Disusul Omar dan Kanti yang bawa hadiah action hero buat dibawa pulang sama Dito. Kami semua makan malam pasta buatan Ifa, plus pizza halal yang diantar. Malam itu malam terakhir Dito di Melb, dan menjelang bubaran dia dapat informasi paling meaningful sepanjang pertemanan kita: Baim adalah aktor dibalik jubah "Kapten Perkasa" di acara Bursa Komedi awal 90'an.
Rabu subuh Dito udah bangun, tapi dia gak ngoran lagi pagi itu. Sebab masih harus packing beberapa barangnya. Usai Rival ngoran dan sarapan, Rival dan Dito berangkat ke Tulamarine Airport dengan camry. Mampir sebentar ke Brunswick Rd jemput Kapten Perkasa di rumahnya.
Sekitar jam 10.30 sampe di Bandara. Abis check-in sempat ngobrol-ngobrol dulu di luar, bahas rencana Dito di Jakarta, sambil sesekali mengulang kisah pembuatan tayangan "Kapten Perkasa".
Jam 11an, kami melepas Dito di Gate 4. Di perjalanan pulang ke Coburg terkenang cerita pertemanan selama 7 bulan terakhir...
Sampai ketemu lagi Bro! Kami tunggu kedatangannya tahun depan di Darlington...
Selasa pagi, Dito ikut ngoran. Nostalgia terakhir sebelum hengkang. (Dito dan Rival adalah dua orang yang sangat fanatik dengan pekerjaannya sebagai tukang koran. Mereka bisa ngobrol soal teknik melempar dan membahas alamat rumah selama berjam-jam dengan penuh antusias.) Waktu di gudang koran, Dito juga sekaligus pamitan dengan kawan-kawan sesama buruh pengantar koran. Tak lupa juga dengan Nick sang majikan.
Setelah loading, pagi itu, Dito bertindak selaku driver/pelempar dan Rival co-driver/penyelip ke mail box. Sepanjang ngoran tak habis-habisnya mereka berdua saling memuji teknik lemparan dan berbagi kisah pengalaman ngoran. Kalau saja ada candid camera, pasti suasana di cockpit camry itu sungguh aneh mengharukan: dua pria dewasa, suah menikah, umur 30an berbincang dengan girangnya tentang hal yang membosankan, saat subuh di tengah dinginnya winter.
Pada situasi itulah terjadi insiden tak terduga. Di rumah No. 163 Drummond St. Dito berhasil melempar age, fin dan sun rolled dengan sukses, diiring decak kagum Rival. Setelah itu giliran rumah No. 169, dengan semangat dan tanpa keraguan Dito menambatkan mobil dengan posisi menceng ke kiri di depan rumah itu. Lantas dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga menyambit age rolled dengan kencang ke arah pintu berwarna hijau. Saat menanti momen jatuhnya si koran, selintas kami berdua melihat sekelebat bayangan orang di pintu itu, berusaha menangkis koran yang meluncur deras dari tangan Dito. Jantung kita berdua sontak berhenti: wadaw, ternyata ada sang penghuni berdiri di depan pintu, sedang bersiap bawa anjingnya jalan-jalan pagi.
Bapak tua itu kontan berteriak marah sambil mengacung-ngacungkan tangannya yang sedang memegang tali kekang anjingnya. Samar-samar terdengar "how dare you... Do you want to kill me.. You've ...", gelegar marahnya segera menghilang di tengah pagi buta, sebab dengan tangkas bergegas Dito tancap gas pergi dari rumah itu, sambil mengangkat tangan dan mengucap "sorry sir...sorry...". Dengan jantung masih deg-degan, mereka melanjutkan antar koran pagi itu. Buat Dito, ini penutupan antar koran yang sangat berkesan. (Keesokan paginya ada notes dari Nick di lembar list pelanggan, "Be careful with 169 Drummond st. You hit the man yesterday, and broke the garden light on the weekend.")
Pulang ngoran, mampir dulu ke apartemen Dito di city. Ambil kunci dan ambil pakaian ganti. Di sana kenalan dengan penghuni baru pengganti Dito. Namanya Mulpi, anak Indo lulusan IPB yang udah dapet PR. Habis itu balik ke Darlington.
Menjelang sore Rival and Dito ke Cauffield, ambil pesanan Ika, yimca sedap buatan Mba Ati koki restoran Nusantara. Sambil menuju coburg, jemput Aria (PSHK) dulu di QV Mall di city. Aria lagi dateng ke Melbourne menemani rombongan hakim-hakim Mahkamah Agung. Di sana ternyata ketemu Mulpi juga yang lagi belanja di safeway. Alhasil, kita berempat beranjak menuju Darlington, untuk berkumpul bersama yang lain dalam rangka melepas kepulangan Dito ke Indo.
Sampai Darlington udah ada Kiki and Oci. Gak lama dateng Erik, Mayada and Belly (adik Mayada yang baru sampe di Melb). Baim juga kemudian dateng sama Izzat. Disusul Omar dan Kanti yang bawa hadiah action hero buat dibawa pulang sama Dito. Kami semua makan malam pasta buatan Ifa, plus pizza halal yang diantar. Malam itu malam terakhir Dito di Melb, dan menjelang bubaran dia dapat informasi paling meaningful sepanjang pertemanan kita: Baim adalah aktor dibalik jubah "Kapten Perkasa" di acara Bursa Komedi awal 90'an.
Rabu subuh Dito udah bangun, tapi dia gak ngoran lagi pagi itu. Sebab masih harus packing beberapa barangnya. Usai Rival ngoran dan sarapan, Rival dan Dito berangkat ke Tulamarine Airport dengan camry. Mampir sebentar ke Brunswick Rd jemput Kapten Perkasa di rumahnya.
Sekitar jam 10.30 sampe di Bandara. Abis check-in sempat ngobrol-ngobrol dulu di luar, bahas rencana Dito di Jakarta, sambil sesekali mengulang kisah pembuatan tayangan "Kapten Perkasa".
Jam 11an, kami melepas Dito di Gate 4. Di perjalanan pulang ke Coburg terkenang cerita pertemanan selama 7 bulan terakhir...
Sampai ketemu lagi Bro! Kami tunggu kedatangannya tahun depan di Darlington...
May 17, 2008
The Gemblongs' New Friends
Sejak di Melbourne Fikhar dan Raeka punya teman-teman baru. Ada teman di sekolah Moreland Primary School (Fikhar) dan di ABC Child Care (Raeka). Dan, ada teman-teman yang sering ketemu dan maen bareng kalo Ayah sama Ibu ada acara bareng orang-orang Indo, seperti pengajian, barbeque-an, diskusi, jalan-jalan dan lain-lain. Nah, temen-temen terakhir ini yang mau diceritain.
Yang pertama, anak-anak Assegaf Family: Izzat, Raushan dan Rasha. Izzat, anak Tante Nana dan Om Baim. Umurnya 7 tahun, baru ulang tahun February kemarin. Izzat sekolahnya di East Brunswick Primary School, grade 1, setingkat dengan Fikhar. Izzat suka banget menggambar dan penggemar Harry Potter sejati. Raushan dan Rasha anak Tante Oci dan Om Kiki. Mereka
tinggal di Haines St, North Melbourne. Raushan umurnya 5 th Maret kemarin, dan dia sekolah di Errol Primary School, prep class. Raushan penggemar Superman dan suka banget pake kostum superhero itu. Rasha, umurnya baru 1,5 tahun. Dia gadis kecil yang sangat independen. Kalau lagi ngumpul dan maen bareng, dia sering banget asyik maen sendiri dan gak tergantung sama anak-anak lain yang lebih gede. Sehari-hari Rasha sekolah di University Child Care di Queensberry St. Kegemaran Rasha yang utama adalah main boneka, sama seperti Raeka.
Yang kedua, Salma, anak Tante Dara dan Om Luky. Salma umurnya kurang lebih 2 tahun. Dia berangkat ke Melbourne ketika umurnya baru 3 bulan. Hobby-nya yang utama maen boneka, main masak-masakan, dan main kembang api. Setiap Salma main ke rumah Darlington, Om Luky selalu bawa kembang api, dan anak-anak girang banget kalo udah main kembang api di halaman depan Darlington. Salma panggil Raeka "Kakak Rae", dan kalau udah janjian mau ketemuan, sejak bangun tidur Salma udah panggil-panggil "Kakak Rae". Raeka juga sami mawon, udah ribut banget dan jumpalitan setiap mau ketemu Salma. Meskipun mereka juga berdua gak jarang bertengkar kalau lagi main bareng, tapi tiap berjumpa selalu berpelukan erat layaknya dua sahabat yang lama banget gak bertemu.
Yang ketiga, Yazi dan Victra, anak Tante Dina dan Om Uda Edi. Yazi umurnya 8 th, Victra 6 th. Mereka berdua sekolah di South-West Brunswick Primary School. Sebagai yang paling tua di
antara anak-anak Indo, Yazi selalu berperan sebagai kakak semua anak-anak. Dia hobby maen games dan pintar main piano. Victra, yang baru aja ulang tahun 25 April kemarin, sangat akrab sama Fikhar. Ketika trip ke Geelong, awal April lalu Victra maunya duduk satu kursi dengan Fikhar di bis. Bahkan mereka terpaksa rela pangku-pangkuan karena anak-anak yang lain (Raeka, Raushan dan Izzat) juga bergabung di kursi yang sebetulnya cuma buat berdua itu. Victra bisa main biola dan gak suka sekali dengan Barbie, tapi penggemar berat Bratz.
Kalau mereka semua udah ketemu.... Blassss! Ruame and huebohhh banget. Mereka pernah jadiin ruang main anak-anak di pengajian P-Brunswick di Masjid Fatih --dengan bahasa mereka sendiri-- "screaming room". Mereka juga pernah duduk bareng dalam satu kursi 2-seater di Bis, dan di bawah panduan Om Omar bikin perjalanan pulang dari Geelong lebih mirip rombongan play group daripada rombongan mahasiswa Ausaid Club.
Yang pertama, anak-anak Assegaf Family: Izzat, Raushan dan Rasha. Izzat, anak Tante Nana dan Om Baim. Umurnya 7 tahun, baru ulang tahun February kemarin. Izzat sekolahnya di East Brunswick Primary School, grade 1, setingkat dengan Fikhar. Izzat suka banget menggambar dan penggemar Harry Potter sejati. Raushan dan Rasha anak Tante Oci dan Om Kiki. Mereka
Yang ketiga, Yazi dan Victra, anak Tante Dina dan Om Uda Edi. Yazi umurnya 8 th, Victra 6 th. Mereka berdua sekolah di South-West Brunswick Primary School. Sebagai yang paling tua di
Kalau mereka semua udah ketemu.... Blassss! Ruame and huebohhh banget. Mereka pernah jadiin ruang main anak-anak di pengajian P-Brunswick di Masjid Fatih --dengan bahasa mereka sendiri-- "screaming room". Mereka juga pernah duduk bareng dalam satu kursi 2-seater di Bis, dan di bawah panduan Om Omar bikin perjalanan pulang dari Geelong lebih mirip rombongan play group daripada rombongan mahasiswa Ausaid Club.
May 15, 2008
Dunia (Ternyata) Selebar Daun Kelor
Pepatah yang bilang bahwa "dunia tak selebar daun kelor" kayaknya kurang berlaku sejak berangkat ke Melbourne Januari lalu. Ini cerita tentang kawan-kawan di Melbourne yang ternyata punya kaitan dengan kerabat dekat atau proses pertemanan di Jakarta.
Pertama-tama yang jelas, Rival memperpanjang rekor satu sekolah bareng sama Rifqi, yang udah berlangsung sejak SMP. So, kalau lulus tahun depan mereka berdua belajar bersama, plus sekantor, selama kurang lebih 22 tahun. Rifqi or Kiki, juga ke Melbourne sama keluarganya, Oci sang istri dan dua orang anaknya; Raushan (5 th) dan Rasha (1,5 th). Oci, adalah juga temen seangkatan Ifa di kampus. Nah, kakaknya Kiki, Ibrahim or Baim, juga belajar ke Melbourne Uni bareng sama istrinya, Najwa (Nana), plus anaknya Izzat (7 th). Baim and Nana lulusan FHUI juga. Baim juga sempet dan masih jadi temen kerja Rival di PSHK. Rival, Kiki and Baim berangkat ke Melbourne barengan 2 Januari 2008.
Sejak sampai di Melbourne, Mereka bertiga ngekos di rumah Luky Djani, gembong Indonesia Corruption Watch (ICW). Luky, teman kerja (Koalisi LSM) Rival, Kiki dan Baim di Jakarta. Istrinya, Dara, alumnus FISIP UI angkatan 95, mahasiswanya Papa and Ibu. Flat Luky and Dara di Lang St, Parkville waktu itu sedang ditinggal kosong karena Dara lagi magang dan penelitian di Aceh, sedangkan Luky pulang ke Jakarta sama Salma (2 th), anaknya. Flat itu jadi markas besar perburuan rumah ke seluruh penjuru Melbourne, dari ujung Coburg sampe pinggir St. Kilda.
Selama berburu rumah ditemenin dan dipandu sama Cucha, anak Indonesia tetangga Kiki di Kompleks AL Cinere, yang nikah sama Scott WN Australia. Dia udah sepuluh tahun di Melbourne, dari sejak kuliah sampe nikah. Cucha, juga adalah temen seangkatan SMP Rival dan Kiki di Cipete. Selama pencarian akomodasi, yang prosesnya melalui puluhan inspeksi, bantuan Cucha dan Scott tak terkira pentingnya. Mereka bahkan sudah siap sejak hari pertama rombongan Jakarta datang. Tanpa diantar mobil mereka sulit mengejar banyak jadwal inspeksi yang waktunya hanya berselang 10-15 menit antar tiap rumah yang jaraknya rata-rata bisa 3-5 km.
Ketika minggu kedua perburuan berlangsung, di tengah kefrustasian karena susahnya dapet offer dari agent, sekonyong-konyong Rival terima sms dari Mas Bagus Aryo, bunyinya kira-kira: "Ada rumah mau ditake-over di Coburg, segera telpon Dito setelah jam 5 sore". Mas Bagus adalah mahasiswa PhD di Unimelb, baru kenal di Melbourne. Mas Bagus adalah juga dosen di Departemen Kesos di FISIP UI, koleganya Tante Cacis (Ibunya Lawe, temen seangkatan Rival di FHUI). Mas Bagus juga sempet kerja bareng Papa di Aceh tahun lalu di proyek yang dkomandoi Tante Cacis. Istrinya, Mba Titi juga anak FISIP UI, yang rupanya teman marching band Oci selama kuliah.
Sore itu juga telpon Dito dan janjian ketemu besok paginya. Sekitar jam 10 siang, Rival and Kiki sampe di Darlington Grove. Sejak liat rumahnya udah langsung tertarik, karena selain cukup besar, unit itu juga punya pekarangan depan yang cukup luas dan dipasang pager. Setelah ngobrol-ngobrol agak panjang dengan Dito baru ketahuan bahwa dia alumnus FEUI yang waktu jadi mahasiswa baru cukup akrab sama Ery, temen kerja Rival di PSHK dan saudara ipar Kiki dan Baim. Ery dan Dito punya kesamaan, hobby latihan martial arts. Istri Dito, Kartika or Ika, adalah anak FHUI yang seangkatan dengan Nana. Ika juga cukup akrab dengan Junet temen se-gank Rival dan Kiki di kampus. Ketika Junet jalan-jalan ke Melbourne tahun 06, dia nginepnya di Darlington.
Ika udah pulang ke Jakarta, rencananya mau melahirkan anak ketiganya di sana. Dito yang masih ada kuliah sampe Juni tahun ini berencana pindah ke apartemen temannya di City, demi menghemat biaya dan waktu. Teman Dito yang dimaksud namanya Benny, lulusan Taruna Nusantara, kakak kelas Hani adik bungsu Baim dan Kiki.
(Rival, Dito, Luky dan Dara di Darlington)
Untuk sementara, sambil terus berburu akomodasi, rumah di Darlington ditempati sama keluarga Baim. Rumah Lang st. ditempati keluarga Kiki. Rival yang masih "single" untuk sementara ngekos di rumah Uda Edi di Brunswick West. Windu, kawan Rival di kampus, yang kasih informasi tentang temporary akomodasi ini. Windu sendiri juga semasa kuliah di Melbourne sempat ngekos di sana. Windu dan Uni Dina (Istri Uda Edi) dahulu teman satu angkatan di SMA. Uni Dina sedang ke Aceh untuk penelitian PhD-nya, dan anak-anak mereka, Yazi dan Victra diboyong ke Jakarta untuk liburan musim panas. Makanya, satu kamar mereka dikos-in untuk mahasiswa baru yang masih kebingungan cari akomodasi tetap.
Selama nge-kos di Howson St. ini, banyak pengetahuan tentang Melbourne didapet, terutama tempat-tempat belanja murah dan lokasi-lokasi hiburan keluarga. Uda Edi, di tengah kesibukannya kerja, masih rajin banget ngajak jalan-jalan. Bahkan, sempat nonton fireworks berduaan di Yarra River waktu Australian Day. Juga nonton Final Australian Open di Federation Square. Ketika udah jalan dua minggu mondok baru ketahuan bahwa Uni Dina adalah orang yang ngurus perjalanan Papa ketika tahun lalu diundang Asia Centre Unimelb untuk presentasi hasil penelitiannya di Lombok. Nah, yang jemput Papa di airport dan antar ke hotel ndilalah adalah Uda Edi.
What a small world....
Pertama-tama yang jelas, Rival memperpanjang rekor satu sekolah bareng sama Rifqi, yang udah berlangsung sejak SMP. So, kalau lulus tahun depan mereka berdua belajar bersama, plus sekantor, selama kurang lebih 22 tahun. Rifqi or Kiki, juga ke Melbourne sama keluarganya, Oci sang istri dan dua orang anaknya; Raushan (5 th) dan Rasha (1,5 th). Oci, adalah juga temen seangkatan Ifa di kampus. Nah, kakaknya Kiki, Ibrahim or Baim, juga belajar ke Melbourne Uni bareng sama istrinya, Najwa (Nana), plus anaknya Izzat (7 th). Baim and Nana lulusan FHUI juga. Baim juga sempet dan masih jadi temen kerja Rival di PSHK. Rival, Kiki and Baim berangkat ke Melbourne barengan 2 Januari 2008.
Sejak sampai di Melbourne, Mereka bertiga ngekos di rumah Luky Djani, gembong Indonesia Corruption Watch (ICW). Luky, teman kerja (Koalisi LSM) Rival, Kiki dan Baim di Jakarta. Istrinya, Dara, alumnus FISIP UI angkatan 95, mahasiswanya Papa and Ibu. Flat Luky and Dara di Lang St, Parkville waktu itu sedang ditinggal kosong karena Dara lagi magang dan penelitian di Aceh, sedangkan Luky pulang ke Jakarta sama Salma (2 th), anaknya. Flat itu jadi markas besar perburuan rumah ke seluruh penjuru Melbourne, dari ujung Coburg sampe pinggir St. Kilda.
Selama berburu rumah ditemenin dan dipandu sama Cucha, anak Indonesia tetangga Kiki di Kompleks AL Cinere, yang nikah sama Scott WN Australia. Dia udah sepuluh tahun di Melbourne, dari sejak kuliah sampe nikah. Cucha, juga adalah temen seangkatan SMP Rival dan Kiki di Cipete. Selama pencarian akomodasi, yang prosesnya melalui puluhan inspeksi, bantuan Cucha dan Scott tak terkira pentingnya. Mereka bahkan sudah siap sejak hari pertama rombongan Jakarta datang. Tanpa diantar mobil mereka sulit mengejar banyak jadwal inspeksi yang waktunya hanya berselang 10-15 menit antar tiap rumah yang jaraknya rata-rata bisa 3-5 km.
Ketika minggu kedua perburuan berlangsung, di tengah kefrustasian karena susahnya dapet offer dari agent, sekonyong-konyong Rival terima sms dari Mas Bagus Aryo, bunyinya kira-kira: "Ada rumah mau ditake-over di Coburg, segera telpon Dito setelah jam 5 sore". Mas Bagus adalah mahasiswa PhD di Unimelb, baru kenal di Melbourne. Mas Bagus adalah juga dosen di Departemen Kesos di FISIP UI, koleganya Tante Cacis (Ibunya Lawe, temen seangkatan Rival di FHUI). Mas Bagus juga sempet kerja bareng Papa di Aceh tahun lalu di proyek yang dkomandoi Tante Cacis. Istrinya, Mba Titi juga anak FISIP UI, yang rupanya teman marching band Oci selama kuliah.
Sore itu juga telpon Dito dan janjian ketemu besok paginya. Sekitar jam 10 siang, Rival and Kiki sampe di Darlington Grove. Sejak liat rumahnya udah langsung tertarik, karena selain cukup besar, unit itu juga punya pekarangan depan yang cukup luas dan dipasang pager. Setelah ngobrol-ngobrol agak panjang dengan Dito baru ketahuan bahwa dia alumnus FEUI yang waktu jadi mahasiswa baru cukup akrab sama Ery, temen kerja Rival di PSHK dan saudara ipar Kiki dan Baim. Ery dan Dito punya kesamaan, hobby latihan martial arts. Istri Dito, Kartika or Ika, adalah anak FHUI yang seangkatan dengan Nana. Ika juga cukup akrab dengan Junet temen se-gank Rival dan Kiki di kampus. Ketika Junet jalan-jalan ke Melbourne tahun 06, dia nginepnya di Darlington.
Ika udah pulang ke Jakarta, rencananya mau melahirkan anak ketiganya di sana. Dito yang masih ada kuliah sampe Juni tahun ini berencana pindah ke apartemen temannya di City, demi menghemat biaya dan waktu. Teman Dito yang dimaksud namanya Benny, lulusan Taruna Nusantara, kakak kelas Hani adik bungsu Baim dan Kiki.
Untuk sementara, sambil terus berburu akomodasi, rumah di Darlington ditempati sama keluarga Baim. Rumah Lang st. ditempati keluarga Kiki. Rival yang masih "single" untuk sementara ngekos di rumah Uda Edi di Brunswick West. Windu, kawan Rival di kampus, yang kasih informasi tentang temporary akomodasi ini. Windu sendiri juga semasa kuliah di Melbourne sempat ngekos di sana. Windu dan Uni Dina (Istri Uda Edi) dahulu teman satu angkatan di SMA. Uni Dina sedang ke Aceh untuk penelitian PhD-nya, dan anak-anak mereka, Yazi dan Victra diboyong ke Jakarta untuk liburan musim panas. Makanya, satu kamar mereka dikos-in untuk mahasiswa baru yang masih kebingungan cari akomodasi tetap.
Selama nge-kos di Howson St. ini, banyak pengetahuan tentang Melbourne didapet, terutama tempat-tempat belanja murah dan lokasi-lokasi hiburan keluarga. Uda Edi, di tengah kesibukannya kerja, masih rajin banget ngajak jalan-jalan. Bahkan, sempat nonton fireworks berduaan di Yarra River waktu Australian Day. Juga nonton Final Australian Open di Federation Square. Ketika udah jalan dua minggu mondok baru ketahuan bahwa Uni Dina adalah orang yang ngurus perjalanan Papa ketika tahun lalu diundang Asia Centre Unimelb untuk presentasi hasil penelitiannya di Lombok. Nah, yang jemput Papa di airport dan antar ke hotel ndilalah adalah Uda Edi.
What a small world....
Subscribe to:
Posts (Atom)