Showing posts with label Life in General. Show all posts
Showing posts with label Life in General. Show all posts

Mar 1, 2009

Setahun Berlalu..

Minggu lalu, 23 February, Darlington Gank resmi berusia satu tahun menetap di Melbourne. Banyak peristiwa suka dan duka yang dialami. Beberapa sudah terekam dalam blog ini, yang lainnya masih tersimpan. Terutama sejak November tahun lalu, catatan harian darlington sempat jeda. Tak jelas benar apa sebabnya; bisa jadi karena mood yang kurang baik akibat urusan pasca tabrakan yang berlarut-larut, atau karena sudah musim bikin papers, liburan panjang anak-anak, kesibukan Ifa registrasi kuliah, keasyikmasyukan main facebook, atau mungkin yang lain-lainnya.

Dalam waktu 4 bulan jeda itu sebetulnya cukup banyak yang bisa diceritakan untuk Tete, Eyang, Andung, Akas dan seluruh kerabat di Jakarta. Tapi baiknya lain waktu saja, lewat posts yang khusus. Untuk sekarang biar kami upadate saja situasi terkini Darlington.

- Ifa sudah resmi jadi mahasiswa postgraduate di Faculty of Arts Melbourne University, ambil Social Policy. Meskipun urusan registrasi yang dialakoni sejak January 2009 masih belum beres tuntas (Student Visa belum kelar), tapi kartu mahasiswa sudah ada di tangan. Proses ini juga dijalani Ifa dengan susah payah karena kesehatan tubuhnya yang tiba-tiba drop; lemah lunglai, sulit bernafas, dan detak jantung yang kadang tak beraturan. Beberapa kali periksa ke dokter, dan menjalani semua rontgen, EKG, juga USG, tapi diagnosanya masih belum terang. Minggu ini, besok tepatnya, Ifa akan ketemu untuk diagnosa hasil USG, semoga hasilnya baik. Ifa sendiri sekarang sudah rada baikan, gak terlalu kesulitan lagi jalan jauh, bahkan sudah latihan tari Saman untuk pentas di Festival Indonesia 15 Maret depan. 

- Fikhar sudah grade 2. Guru utamanya sekarang Tony (Dulu Fikhar selalu menyebut nama Tony dengan isyarat: menyentuh 'jempol kaki' dan 'lutut' (toe-knee). Dia salah satu guru tertua di Moreland Primary School. Cukup cerewet dan kadang galak sama orang tua yang kurang perhatian dengan anak-anaknya. Kami pernah beberapa kali ditegurnya karena tidak memberi catatan di buku 'home reading' Fikhar (karena Ifa sakit dan kami seharian ada Royal Melbourne Hospital). Sejak minggu lalu, Fikhar juga ikut after school care, mulai usai jam sekolah sampai pk 17.00. Dia cukup senang dengan program itu karena makin lama bisa bermain dengan teman-teman sekolahnya (termasuk Raushan), dan banyak kegiatan kreatif di sana. Buat kami, after school program ini selain memudahkan pembagian waktu, juga bermanfaat untuk mengurangi waktu Fikhar main game di komputer.

- Raeka sekarang punya sekolah baru, Queensberry Child Care Centre, milik Melbourne Uni. Sejak rontoknya ABC child care karena kesulitan finansial yang parah (ada ratusan ABC yang ditutup di seluruh Australia), kami memutuskan untuk memindahkan sekolah Raeka. Queensberry CC dipilih karena dua alasan: pertama, letaknya persis bersebelahan dengan gedung kuliah Ifa; kedua, cerita-cerita bagus tentang child care ini dari Oci dan teman-teman yang lain. Sejak pulang dari hari pertama di Queensberry, Raeka langsung menunjukkan kegembiraannya bersekolah di sana. Setiap hari Raeka selalu mencipta banyak karya (Istilah Raeka: my works!); gambar-gambar berwarna-warni dan berbagai bentuk seni rupa. Mulai hari ketiga, Raeka sudah makin sulit diajak pulang. Dia juga sudah berkawan akrab dengan Hanan (anak Daan dan Haris) dan Anjana (anak India). Oh iya, Raeka sebetulnya masih tidak penuh di Queenberry, masih ada satu hari (Kamis) yang tersisa di ABC, karena hari itu dia tidak dapat tempat di Q'berry. Dan karena itu, kamis jadi hari yang tidak mudah buat kami semua, sebab Raeka tidak mau ditinggal di ABC dan selalu nangis saat kami terpaksa meninggalkannya. Semoga dia bisa segera penuh di Q'berry, supaya hatinya lebih gembira. Info penting: Raeka sedang tergila-gila dengan lagu 'Love Story'-nya Taylor Swift. Sejak kita beli lagu-nya dari I-Tunes, tiada hari tanpa kumandang lagu ini (baik dari speaker maupun dari mulut mungilnya) di rumah, di mobil dan bahkan di Mesjid kala pengajian.

- Rival masuk semester terakhir di Law School. Masih jadi pengantar koran. Bedanya, sejak November tiap hari sabtu mulai kerja pk. 2 pagi sampai pk 10 siang.  Tapi hari minggu dapat jatah libur. Rival juga punya rutinitas baru, main bola, tiap sabtu sore dengan tim sepak bola Indomelb. Setelah istirahat setahun, akhirnya dia bisa main bola lagi. Meskipun tidak selincah dan setangkas dahulu, tapi skill-nya ternyata masih tersisa. Pada pertandingan lawan Indomonashis, dia hampir saja mencetak gol indah, sayang masih terbentur tiang gawang. 

- Beberapa teman juga sudah pulang. Ibrahim dan Nana, meskipun masih resmi berstatus mahasiswa, sekarang sudah lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Mayada sudah pulang, meskipun Erik-nya balik lagi untuk kursus 6 bulan dan akan lanjut kuliah di ANU. Oh, ada juga kawan lama yang baru datang, Ari Perdana alias AP. Ia bersama istri dan anaknya tiba persis minggu lalu. AP teman kuliah di UI, juga sama-sama jadi 'aktivis' KBUI waktu gejolak 98. Kini, dia ambil PhD Ekonomi di Melbourne Uni. 

Itu dulu ringkasan update Darlington. Kisah kasih lainnya akan menyusul. Semoga tidak ada jeda panjang lagi.

Sep 8, 2008

Belajar Baca Al Quran

Om Kiki jadi favorit anak-anak sejak beberapa minggu terakhir. Sejak dia jadi pendongeng kisah nabi-nabi dan sejarah agama Islam di acara mingguan belajar baca Quran untuk anak-anak. Bagi orang dewasa, terutama kawan-kawannya dekatnya, Om Kiki punya track record yang kurang memuaskan sebagai pencerita, penggosip apalagi pendongeng. Padahal bila dilihat dari kriteria utama tukang cerita, sesungguhnya dia memiliki semuanya: passionate, value oriented dan great sense of humors. Kekurangannya cuma satu, yang sayangnya sangat mendasar: ia pelupa. Sehingga, dalam banyak situasi ketika ia tengah antusias bercerita dan pendengar mulai terhanyut, sekonyong-konyong hening datang, cerita terputus dan ketegangan menunggu kilmaks berganti dengan rasa jengkel sekaligus penasaran bukan kepalang. Namun, lama kelamaan, yang justru ditunggu-tunggu dari Kiki-bercerita adalah momen anti-klimaks itu sendiri, yang pada akhirnya jadi trade mark orisinilnya.

Di acara Taman Pengajian Al Quran mingguan ini, sesi "Om Kiki Bercerita" diletakkan di akhir acara. Sebagai sesi yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Terutama Raushan dan Raeka fans beratnya. Pembukaan TPA adalah shalat maghrib berjamaah yang langsung dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan menu special bikinan tuan rumah yang dapat giliran. Setelah itu, baru masing-masing anak akan memegang juz 'ama dan belajar membaca Al Quran dengan panduan guru khusus atau orang tua yang ikut bergabung hari itu. Nah, tugas Om Kiki adalah pasca semua acara tersebut berlangsung. Om Kiki tetap masih sering lupa dengan detail dan alur cerita, bedanya para pemirsa cilik ini tak sedikitpun terganggu dengan itu, terhanyut passion Om Kiki mengisahkan sepak terjang nabi-nabi sepanjang zaman.

Rutinitas mingguan ini sudah berlangsung kira-kira tiga bulanan. Lokasinya bergiliran di rumah-rumah peserta belajar. Peserta utamanya adalah: Yazi, Izzat, Fikhar, Victra, Raushan, Raeka dan Rasha. Ada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi sukarelawan mengajar Taman Pengajian Al Quran di area kampung Indonesia di northern suburb. Untuk grup ini, pengajarnya Mba Daan. Kalau dia sedang berhalangan mengajar, para orang tualah yang bertugas menggantikan. Beberapa minggu belakangan, para orang tua yang lebih banyak berperan.

Acara mingguan ini sekaligus jadi ajang kumpul-kumpul, gosip dan makan-makan bagi para orang tua. Kadang yang lebih bersemangat dan sibuk menyambut hari H adalah mereka. Sejak pembukaan TPA di rumah Uni Dina, hidangan yang disajikan langsung nyangkut di standar tinggi. Hari itu, semua peserta menyantap soto betawi ala Howson Street. Acara di Darlington baru berlangsung satu kali, dengan menu utama Iga Garang Asem ala Tumifa, yang langsung terkenal kelezatannya seantero melbourne northern inner suburb, sampai menjadi menu andalan pengajian PBrunswick menjelang Ramadhan kemarin.

Kiki dan Oci, di rumahnya yang baru di Blyth, menghidangkan ayam bumbu balado ijo ala Oci. Baim dan Nana tak kalah seru, menyajikan hidangan jepang + korea. TPA terkini berlangsung di rumah Uni Dina, sekalian buka puasa bersama, dengan sajian andalan Soto Padang plus macam-macam penganan pembuka.

Alhasil, acara TPA ini memang jadi multiagenda. Sambil anak-anak belajar agama dan Al Quran, para orang dewasa mengasah kepekaan sosial melalui gosip-gosip mutakhir dan memanjakan lidah dengan makanan yang sedap dan beraneka rasa.

Sep 1, 2008

Ramadhan di Musim Semi

Ramadhan datang hari ini, persis bersama pembukaan musim semi. Kembang sakura, di sepanjang pedestrian kampung coburg, mekar berbunga menyambutnya. Ini kali pertama, sahur tanpa iringan adzan subuh dan ocehan para pelawak/ustadz di televisi. Santapan sahur pembuka: kambing panggang kiriman kawan, Iga garang asem ala Ifa bawaan pengajian dan juz apel segar. Kami berdua saja. Fikhar dan Raeka masih lelap, agak kelelahan. Kemarin mereka pergi sampai malam, ikut pengajian dan nonton Ibunya menari saman di Festival Indonesia.

Sepulang dari sekolah, Fikhar bilang bahwa dia puasa seharian, dan protes kenapa dia dibekali makan siang. Ini kali pertama juga Fikhar puasa penuh, sampai maghrib tiba. Buka puasa pertama diisi dengan hidangan es buah peach-lecci, pizza tipis kering dan kambing panggang ala Ifa. Khusus untuk Fikhar, ada telur dadar kesukaannya. Raeka yang juga sudah ribut menjelang buka puasa sudah siap-siap dengan dua telur rebus bulat favoritnya. (Saat sedang asyik berbuka, datang satu nampan besar daging kambing dan ayam panggang dari tetangga Lebanese depan rumah. Ifa langsung gelisah: gimana ngabisinnya dan gimana ngebalesnya!)

Ramadhan datang syahdu di sini. Dihias semarak sakura musim semi. Teriring doa dan salam dari Darlington untuk orang-orang tersayang di tanah air...

("Selamat Menjalankan Ibadah Puasa!")

Aug 25, 2008

Garage Sale di Darlington


Sabtu pagi sampai sore, di tengah gerimis dan terik matahari yang bergantian, berlangsung garage sale di Darlington house. Semua barang peninggalan mantan penghuni Darlington, ditambah barang-barang Indomelb yang disimpan di gudang mba Khuldi, plus seluruh isi ex rumah Ibeth di jual di sini. Dari tempat tidur IKEA sampai gayung plastik. Dari yang harganya $50 (fridge) sampe yang "ambil aja sebanyak-banyaknya" (perlengkapan dapur).

Yang jualan makanan sarapan pagi lumayan banyak. Ibu-nya Kanti-Omar, yang sedang berkunjung untuk menemani anaknya yang sebentar lagi melahirkan, jual lontong sayur ala padang, $4 pake telor. Zubeth bikin bubur kacang ijo, bayar se-relanya. Rifki Akbari buat nasi udang balado untuk makan siang. Ada juga yang jualan spring roll $3/4 buah. Gak heran, pengunjung udah ramai sejak pagi-pagi. Sambil sarapan, belanja barang. Suhu 6 derajat tak menghalangi kegembiraan orang-orang hari itu.

Siangnya, ketika transaksi sudah mulai mereda sebagian pengunjung berdiskusi tentang masa depan organisasi Indomelb di halaman rumah. Gerombolan krucil yang datang juga cukup banyak, dan mereka semua --seperti biasa-- menjadi penguasa area dalam rumah. Fikhar dan Raeka luar biasa senang hari itu, sudah lama mereka bermimpi mengadakan garage sale di rumah sendiri.


Seluruh acara hari itu selesai sekitar pukul 3an. Hasil penjualan barang cukup lumayan. Para penjaja makanan tersenyum senang. Para pengurus dan simpatisan Indomelb pulang dengan banyak gagasan dan mimpi baru. Teman-teman dekat (kel. Assegafs dan kel. Dina) masih lanjut bercengkerama sampai pukul 5. Sekalian merencanakan perjalanan ke Carribean Market esok harinya.

Aug 22, 2008

Working Visa, 15 Menit Saja...

Sepulang dari ambil upah mingguan, saya tiba-tiba terpikir untuk mulai mengurus working visa. Sebetulnya tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk mengurus itu sekarang. Sebab, kerjaan yang sekarang juga gak menuntut buruhnya untuk punya working visa dahulu. Apalagi di kontrak ada aturan yang bilang bahwa Ausaid student awardee hanya bisa dapat visa kerja bila sudah menjalani satu semester dengan prestasi baik dan dapat surat ijin dari universitasnya. Kerumitan birokrasi yang cuma bikin tambah malas. Buat Ifa, visa kerja memang agak berguna, karena bisa jadi tambahan amunisi untuk banyak urusan yang berkaitan dengan benefit dan segala macam potongan (child care, after school care, dan care-care lainnya).

Menjelang sampai di rumah, sekonyong-konyong hp menyalak tanda sms datang. Rupanya Uni Dina: "Val, udah tau blm hr ini bs bkn workg visa d kampus?". Pesan pendek yang bikin gairah hidup bangkit. Wah, kebetulan be'eng... Berarti kan ga usah ngurus dengan prosedur yang panjang. Segera aja kasih tau kabar ini ke Ifa, dan rencana hari itu langsung bergeser: Ke kampus dulu bikin working visa dan bayar bill listrik di kantor pos, terus jemput Raeka di Moreland Kindergarten, and lantas cari pohon bunga $2 di perapatan moreland, terakhir baru jemput Fikhar di sekolah.

Ifa sebetulnya agak merasa berat untuk jalan-jalan ke luar rumah. Sudah dua hari ini dia gak enak body. Badannya lemes terus dan kepalanya sakit gak karuan. Apalagi hari ini dinginnya luar biasa menyengat. Mungkin menjelang penutupan winter, jadi si angin dari kutub menyerang daratan secara jor-joran. Tapi, dengan semangat Darlingtonian, Ifa memantapkan hati dan menguatkan kaki melangkah ke kampus Parkville. Sampai kampus untungnya langsung dapat tempat parkir gratis 1P, alias satu jam saja. Langsung aja kami berdua menuju International Center.

Sampai lokasi, ternyata sepiiii sekali. Hanya ada tiga orang di sana, semuanya pegawai imigrasi. Yang seorang menyapa kami dan memberi petunjuk proses mendapatkan working permit visa: Pertama-tema isi form 157A, untuk family (student and spouse) cukup satu form saja. Setelah itu serahkan formulir ke pegawai yang menginput data. Karena Rival mahasiswa yang dibiayai Ausaid, kami tidak perlu mengeluarkan $60 untuk biaya administrasi. Habis itu, dalam waktu 15 menit, paspor kami berdua sudah diisi dengan sticker visa yang baru. Ya' betul! Limabelas menit saja. Ifa, yang sebelumnya lesu dan agak murung, sontak mendadak sumringah ketika melihat sang pegawai perempuan yang mengisi data menyatakan bahwa urusan kita sudah tuntas saat itu juga, tak perlu tunggu kabar apapun lagi.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan birokrasi yang lelet dan penuh curiga, kami berdua jadi senang luar biasa dapat perlakuan seperti itu. So, kita segera telpon Kiki and Oci untuk kasih berita/informasi itu. Sayangnya, Kiki gak dapat perlakuan yang serupa dengan kami. Dia diharuskan menunjukkan surat ijin dari universitas. Uniknya, surat itu tak jadi syarat buat urusan visa kami. Ternyata, sisi "tak konsisten" birokrasi masih muncul juga di sini.

Jun 29, 2008

Bercengkerama dan Makan Gratis

Ada empat organisasi Indonesia di Melbourne yang kegiatannya paling sering kami ikuti. Semuanya dengan motivasi yang hampir sama: bercengkerama dengan teman-teman Indo plus bonus makan gratis. Anak-anak juga paling seneng kalau ikut acara-acara ini, karena mereka bisa ketemu gerombolan kawan-kawannya.

Yang pertama, PBrunswick alias Pengajian Brunswick. Menurut tetua, ini salah satu organisasi mahasiswa tertua di Melbourne. Konon, salah satu pendiri dan ketua pertamanya adalah Bang Hamid Chalid, mantan direktur PSHK yang pertama. Nama Brunswick dicomot dari nama suburb yang paling padat mahasiswa Indonesianya (terutama yang kuliah di Melb Uni). Brunswick di masa lalu memang dikenal sebagai Kampung Indonesia. Tempat ini jadi incaran mahasiswa Indonesia karena selain jaraknya dekat dengan kampus, daerah ini juga dibanjiri toko-toko makanan halal dan mesjid-mesjid. Sebab, agak ke utara sedikit, Moreland dan Coburg, dihuni oleh imigrant Turki dan Libanon.

Kegiatan PBrunswick, tak berbeda dengan pengajian-pengajian pada umumnya. Setiap akhir bulan, ada ceramah dan diskusi keagamaan yang ditutup dengan makan siang bersama. Ajang ini juga jada ajang silaturahmi dengan permanent residence asal Indonesia yang tinggal di suburb yang sama. Sejak datang, Darlington Gank tidak pernah absen dari pengajian, sampai Rival sempat dicalonkan jadi ketua pengajian karena tingkat kerajinannya. Alhamdulillah wa syukurillah, pengajian tersebut memilih Om Omar, dan luput dari kesalahan fatal.

Selain diskusi, PBrunswick juga jadi penyelenggara rutin Shalat Ied di Melb Uni. Juga mengorganisir Taman Pengajian Anak-anak. Dahulu, yang juga aktif menyambut mahasiswa Indo yang kuliah di Victoria adalah PBrunswick. Kini, tugas itu dilakukan oleh organisasi muda yang lebih luas cakupan kegiatannya, yakni IndoMelb.

IndoMelb, umurnya jauh lebih muda. Kalau gak salah baru terbentuk tahun 05. Awalnya dari mailing list mahasiswa, yang kemudian berkembang jadi terminal kegiatan. Aktivitasnya luar biasa banyak, dari main bola, main catur, main bulutangkis, main gaple, main sepeda, diskusi buku dan film, diskusi agama, club fotografi, club tari, main musik, garage sale, penyambutan an penglepasan mahasiswa, dan lain-lain. Mereka menyebut koordinatornya dengan jabatan Lurah. Yang menarik, anggota yang sudah pulang kembali ke Indonesia, masih tetap tergabung di Milis, sehingga jalinan komunikasi masih terus terjaga dengan baik. Kalau mau tahu lebih banyak, ini situsnya http://www.indomelb.org/.

Organisasi yang ketiga, Melbourne Initiative. Ini kelompok diskusi yang punya cita-cita membangun jaringan kerja dan jalinan pikiran untuk tanah air. Baru berdiri sekitar 2 tahun. Di antara yang ikut membangun adalah Luky Djani dan Windu. Pengikutnya masih terbatas, dengan sistem member get member, kayak amway. Dahulu mereka punya kurikulum diskusi dan rutin bertemu, namun sejak banyak anggota yang pulang atau berpindah lokasi, diskusinya masih belum berjalan sistematis lagi. Diskusi terakhir, bulan april lalu, mendatangkan Mas Hadar Cetro, yang kebetulan lagi mampir di Melbourne. Sebelum itu, sempat juga berdiskusi dengan Ahmad Suaedy, Wahid Institute, tentang kasus Ahmadiyah. Sedikit banyak, ajang ini cukup berguna untuk mengasah kepekaan pikiran dan sosial.

Yang terakhir, UMAC, Uni Melb AusAid Club. Ini, organisasi yang menaungi mahasiswa Asia-Pacific yang dikasih beasiswa oleh AusAid. Kegiatan utamanya adalah membantu mahasiswa berurusan dengan AusAid bila ada kesulitan dengan kuliah dan kehidupan, dan juga kegiatan bersenang-senang. Acara ke Geelong water park lalu, adalah salah satu kegiatan yang digawangi oleh UMAC. President yang sekarang adalah uni Dina, pemilik rumah kos Rival waktu bulan pertama di Melbourne. UMAC juga punya kegiatan nonton film dan lain-lain, tapi kami biasanya dateng ke agenda yang ada makan-makan bersamanya.

(Raushan, Raeka, Salma di acara UMAC)

Empat organisasi ini berisi orang yang itu-itu aja, sebetulnya. Jadi manfaatnya yang utama, tak lain dan tak bukan, adalah untuk melepas lelah, bercengkerama, dan... makan gratis, tentu saja.

Jun 26, 2008

Dua Mata Acara

Dahulu, ada dua acara televisi yang tak pernah kami ikuti dengan sepenuh hati, laporan cuaca dan pidato politik di parlemen. Keduanya punya kesamaan: membosankan dan meragukan. Kini, dua mata acara itu tak jarang kami pelototi, sebab kerap berpengaruh langsung buat kehidupan buruh-buruh di australia dan seluruh penerima santunan negara, termasuk mahasiswa mancanegara.

Informasi tentang cuaca akan membantu para pengantar koran harus pakai kostum apa di pagi buta. Berapa lapis baju yang harus dipakai? Lebih baik berselubung raincoat atau jaket windproof? Perlu bawa sarung tangan atau tidak? Dan yang tak kalah penting, sudah siap mental sebelum berangkat, jadi tak lagi misuh-misuh jika di tengah kenikmatan melempar koran, sekonyong-konyong diguyur hujan dan diterpa angin kutub selatan.

Pengetahuan soal cuaca juga berkait erat dengan rincian jadwal harian dan mingguan. Sejak hujan bisa diperkirakan jamnya, urutan aktivitas juga mesti disesuaikan. Mesti belanja dahulu atau mencuci pakaian. Main di taman usai sekolah atau jalan-jalan ke pertokoan di akhir minggu.

Pengetahuan tentang kebijakan kabinet juga tak kalah penting. Sebab, selain berkait erat dengan hal ikhwal kehidupan material sehari-hari, juga berjalin kuat dengan emosi dan opini yang hembusannya sampai ke pelosok pasar murah dan pojok selasar rumah. Sejak Partai Buruh berkuasa, di bawah komando Kevin Rudd yang simpatik, ada pergeseran bandul kebijakan yang signifikan, dari yang sebelumnya pro pemilik modal besar jadi lebih memihak keluarga-keluarga buruh, imigrant, lingkungan dan penduduk asli.

Gebrakan pertama Kabinet Rudd, tanda-tangan protokol Kyoto. Tindakan itu membuat bangsa Australia boleh mengaku lagi sebagai bangsa yang beradab, karena peduli dengan bumi dan sesama. Meninggalkan dua sobat lamanya, yang masih tambeng, Amerika Serikat dan Botswana. Gebrakan kedua, pada medio Februari, Pemerintah Federal Australia meminta maaf secara resmi pada bangsa aborigin, karena pernah secara sistematis menculik anak-anak mereka guna melucuti sejarah dan kebudayaan asali dari ingatan mereka. Semata-mata agar cara hidupnya "sama" dengan cara hidup bangsa Eropa yang berkuasa. Dalam pidato permintaan maaf di parlemen yang ditonton dengan seksama dari seluruh penjuru negeri, bukan hanya bangsa aborigin yang menitikan air mata, tapi juga semua yang masih percaya bahwa tiap-tiap jiwa-raga yang hidup harus diperjuangkan nasibnya bersama-sama.

Gebrakan ekonomi Kabinet Rudd terjadi bulan April lalu. Anggaran pemerintah yang selama Kabinet Howard dipakai buat insentif kapital dan biaya perang, kini diperuntukkan bagi peningkatan subsidi child care (sehingga perempuan dan keluarga pekerja, tak habis gajinya untuk penitipan anak), baby bonus (insentif untuk keluarga menengah dan bawah bila punya balita), perlindungan buruh dari potensi kesewenang-wenangan perusahaan (jaminan kontrak, upah, dan tunjangan). Tak ayal buruh dan kelas menengah bergembira. Termasuk mahasiswa mancanagera, khususnya yang sembari belajar juga jadi buruh buka-tutup toko di pasar, pengantar koran, tukang cuci piring, pelayan restoran, cleaner kantor-kantor dan pengantar junk mail.

Semua informasi dan kebijakan itu diumumkan dan diperdebatkan di koran-koran dan di televisi. Tak ada beda format dan gaya dengan belahan negeri lain. Yang berbeda hanya respon kami terhadapnya. Meskipun tetap membosankan, informasinya cukup meyakinkan. Dan punya dampak nyata pada kehidupan.

Mar 7, 2008

Cerita Ifa: Minggu-Minggu Pertama

a. And so the happy cleaning story continues...
Walaupun rumah/unit yg berhasil didapatkan Rival bagus banget dengan segala fasilitasnya, tapi ternyata butuh facial yang lumeyen. Alergi hidung buntu gua langsung kambuh deh. Itu pun menurut Rival si rumah udah dibersihkan sama dia & Dito sebelum kita datang. Karpetnya di steam and dia juga gosok-gosok dapur sampai pagi. Jadi kerjaan gua dari datang sampai hari ini (selain jalan-jalan ke City selama 1 hari minggu lalu utk beli stroller buat Raeka yang membuat gua agak merasa udh di luar negeri) adalah bersih-bersih terus. Sabun favorit? "Shelley's Sugar Soap!"...noda-noda lama pun hilang. Manalagi kulit gua n anak-anak jadi kering banget sampai luka-luka. Untung hari ini udah beli pelembab yg katanya oke menurut orang-orang yg sdh lama tinggal di sini. Sorbolene.

b. I love discounts...
Nah., kalo belanja sekarang liat-liat kalo ada yg special price he3x. Kalo ngga ada ya pilih yang merek punya Coles (seperti carrefournya sini) sendiri yang pasti lebih murah dari merek-merek lain. Apa-apa mahal ya bo. Katanya sih biar ngga stress jangan di kurs ke rupiah terus, anggep aja $10 seperti Rp 10,000.

Rival berhasil dapet kerja sebagai newspaper boy. Minggu ini masih training sih, minggu depan baru kerja benerannya. Tiap pagi bangun jam 4 karena jam kerja mulai dari jam 4.30. Dengan masih belekan dan ngopi doang berangkatlah dia. Selesainya tergantung seberapa jago nantinya dia ngelempar korannya. Kalau udh jago seperti Dito, sejam bisa selesai, pulang dan tidur lagi. Bayarannya $35 satu round. Ini model kerjaan yg paling ideal buat student karena ngga mengganggu jam kuliah dan bayarannya juga lumayan.
Rival lagi berusaha keras menghafal rumah and kantor yg langganan koran karena walau ada listnya, tidak dianjurkan meloper sesuai list, bisa berjam2 karena muter-muter kesana kemari. Sangat dianjurkan meloper sesuai rute jalan dan karena belom tentu setiap rumah di rute tersebut langganan koran, Rival harus menghafal rumah mana yg berlangganan. Alamat dia juga akan semakin kurus karena lari-lari setiap hari (dia udah turun 8 kg btw) kl udh jago seharusnyadia bisa ngelempar dari dalam mobil dan ndak perlu lari. Gw juga rencananya pengen cari kerja, tapi visa gw harus dirubah dulu and butuh waktu paling kurang 2 minggu untuk ngurus itu. Yang jelas biar ada lowongan di 1000 tempat, gw ngga mau jadi cashier toko ya bo...pok, kapok,pok.

c. Fikhar n Raeka
Sekolahnya Fikhar gratis, walaupun ada parents contribution $110, katanya nanti diganti sama Federal Government. Pake seragam tiap hari dan secara kita baru sanggup beli 1 kaos, tu kaos dicuci hampir tiap hari n dipake lagi, kadang malah ngga dicuci he3x...

Fikhar senang sekali dengan sekolahnya. Dia langsung adaptasi n sekarang bahkan sudah mengidentifikasi cewek yg akan dinikahinya...namanya Ashia (orang Malaysia), "She's the girl I want to marry, she's very pretty," katanya. Gua udah ngga boleh lagi cium dia di depan teman-temennya, karena pernah sekali pulang sekolah gua cium and temen-temen ceweknya langsung teriak2:"Mummy's boy!"...hmmm...

Ada 2 folder yg harus dibawa sama Fikhar tiap hari, homework folder and home reader folder. Kalo homework kadang-kadang aja. Kalo home reader ada buku yg harus dibaca tiap malam dan ortunya harus mencatat di log book yang akan dilihat gurunya. Fikhar sebenarnya sudah bisa baca dengan lancar, walaupun ada beberapa kata yg dia lafal salah.

Tiap hari untuk makan siang Fikhar dibawain sandwich, isinya kalo ngga peanut butter, ayam atau turkey. Beberapa hari terakhir ini gua usahain bawain sayur-sayuran, karena ternyata dia and Raeka mau makan sayur yg dibekukan (fresh frozen veggies) yaitu yang campur (wortel, kacang polong n jagung). Ibunya sih senang banget, karena sayur itu tinggal di kukus and disajikan. Tapi hari ini sayurnya tidak dimakan dan rotinya juga sering ngga habis. Alasannya keburu bel masuk. Akhirnya gua grounded ngga boleh nonton TV seminggu sampai dia berhasil menghabiskan makan siangnya.

Raeka sebenarnya sekolah kinder-nya cuma sehari, yaitu tiap hari Jumat tapi karena di day care-nya aktivitasnya mirip kayak di sekolah, jadi kita bilangnya ke dia tiap hari Selasa dan Rabu dia sekolah. Raeka juga langsung adaptasi, tapi hari ini tau-tau dia bilang, "Aku capek sekolah terus." Nah, mungkin iya juga sih, karena hari Selasa dan Rabu dia dari jam 10-an sampai jam 16.00-an. Kindernya yang hari Jumat juga bayar $110 dan tidak diganti sama Federal Government.

Kalau tidak sekolah, Raeka di rumah sudah lebih banyak main sendiri atau nonton TV. Gua bahkan bisa kerja bersih-bersih seharian karena dia sudah bisa menghibur dirinya sendiri. Mainnya ya seperti biasa, jadi mbak/bunda/ibu ngurusin Clarita, nyanyi-nyanyi sendiri sambil berimajinasi ada temen-temen sekolahnya. Mainannya di sini langsung banyak karena ada peralatan makan bayi bekas anaknya Dito. Waktu pertama kali gua beres-beres and ngeluarin peralatan itu, dia ribut banget,"Ini masih dipake ngga? Boleh buat aku ngga?"

Nafsu makannya juga jadi lebih besar. Tiap 2-3 jam dia akan sambat lapar. Biasanya kalo belom waktu makan siang, gw kasih roti, atau dia ngambil sendiri marshmallow dari kulkas. Hari ini bahkan dia ngemil si sayuran campur itu. Karena dijanjikan dibawa jalan-jalan Sabtu ini, dia mau nyoba makan brokoli, eh ternyata suka. Jadi selain sayuran campur itu, Raeka juga suka makan brokoli. Lega deh Ibunya, anak2 tidak tergantung vitamin sayur lagi...