Mar 4, 2009

Si Abang Hari Ini

Si Abang, tanggal satu gigi depannya hari ini
Kena lempar bola waktu pelajaran olahraga
Sedikit keluar darah dari gusinya
Tapi Abang tidak menangis karenanya

Si Abang dapat pujian dari Tony, sore tadi
Tulisan tangannya rapih dan apik
Ilmu berhitungnya juga sudah maju dan rumit
Pakai semua tricks ajaran sang guru unik

Si Abang mulai malam ini punya jadwal baru
Usai The Simpsons dan makan malam...
Giliran utak atik matematik bersama ayah
Lantas membaca dan menulis dengan ibu

Si Abang juga musti kerap tulis surat
Kepada siapa saja dengan pesan aneka rupa
Bukan main senangnya si Abang
Akhirnya bisa pos-kan surat betulan

Mar 1, 2009

Setahun Berlalu..

Minggu lalu, 23 February, Darlington Gank resmi berusia satu tahun menetap di Melbourne. Banyak peristiwa suka dan duka yang dialami. Beberapa sudah terekam dalam blog ini, yang lainnya masih tersimpan. Terutama sejak November tahun lalu, catatan harian darlington sempat jeda. Tak jelas benar apa sebabnya; bisa jadi karena mood yang kurang baik akibat urusan pasca tabrakan yang berlarut-larut, atau karena sudah musim bikin papers, liburan panjang anak-anak, kesibukan Ifa registrasi kuliah, keasyikmasyukan main facebook, atau mungkin yang lain-lainnya.

Dalam waktu 4 bulan jeda itu sebetulnya cukup banyak yang bisa diceritakan untuk Tete, Eyang, Andung, Akas dan seluruh kerabat di Jakarta. Tapi baiknya lain waktu saja, lewat posts yang khusus. Untuk sekarang biar kami upadate saja situasi terkini Darlington.

- Ifa sudah resmi jadi mahasiswa postgraduate di Faculty of Arts Melbourne University, ambil Social Policy. Meskipun urusan registrasi yang dialakoni sejak January 2009 masih belum beres tuntas (Student Visa belum kelar), tapi kartu mahasiswa sudah ada di tangan. Proses ini juga dijalani Ifa dengan susah payah karena kesehatan tubuhnya yang tiba-tiba drop; lemah lunglai, sulit bernafas, dan detak jantung yang kadang tak beraturan. Beberapa kali periksa ke dokter, dan menjalani semua rontgen, EKG, juga USG, tapi diagnosanya masih belum terang. Minggu ini, besok tepatnya, Ifa akan ketemu untuk diagnosa hasil USG, semoga hasilnya baik. Ifa sendiri sekarang sudah rada baikan, gak terlalu kesulitan lagi jalan jauh, bahkan sudah latihan tari Saman untuk pentas di Festival Indonesia 15 Maret depan. 

- Fikhar sudah grade 2. Guru utamanya sekarang Tony (Dulu Fikhar selalu menyebut nama Tony dengan isyarat: menyentuh 'jempol kaki' dan 'lutut' (toe-knee). Dia salah satu guru tertua di Moreland Primary School. Cukup cerewet dan kadang galak sama orang tua yang kurang perhatian dengan anak-anaknya. Kami pernah beberapa kali ditegurnya karena tidak memberi catatan di buku 'home reading' Fikhar (karena Ifa sakit dan kami seharian ada Royal Melbourne Hospital). Sejak minggu lalu, Fikhar juga ikut after school care, mulai usai jam sekolah sampai pk 17.00. Dia cukup senang dengan program itu karena makin lama bisa bermain dengan teman-teman sekolahnya (termasuk Raushan), dan banyak kegiatan kreatif di sana. Buat kami, after school program ini selain memudahkan pembagian waktu, juga bermanfaat untuk mengurangi waktu Fikhar main game di komputer.

- Raeka sekarang punya sekolah baru, Queensberry Child Care Centre, milik Melbourne Uni. Sejak rontoknya ABC child care karena kesulitan finansial yang parah (ada ratusan ABC yang ditutup di seluruh Australia), kami memutuskan untuk memindahkan sekolah Raeka. Queensberry CC dipilih karena dua alasan: pertama, letaknya persis bersebelahan dengan gedung kuliah Ifa; kedua, cerita-cerita bagus tentang child care ini dari Oci dan teman-teman yang lain. Sejak pulang dari hari pertama di Queensberry, Raeka langsung menunjukkan kegembiraannya bersekolah di sana. Setiap hari Raeka selalu mencipta banyak karya (Istilah Raeka: my works!); gambar-gambar berwarna-warni dan berbagai bentuk seni rupa. Mulai hari ketiga, Raeka sudah makin sulit diajak pulang. Dia juga sudah berkawan akrab dengan Hanan (anak Daan dan Haris) dan Anjana (anak India). Oh iya, Raeka sebetulnya masih tidak penuh di Queenberry, masih ada satu hari (Kamis) yang tersisa di ABC, karena hari itu dia tidak dapat tempat di Q'berry. Dan karena itu, kamis jadi hari yang tidak mudah buat kami semua, sebab Raeka tidak mau ditinggal di ABC dan selalu nangis saat kami terpaksa meninggalkannya. Semoga dia bisa segera penuh di Q'berry, supaya hatinya lebih gembira. Info penting: Raeka sedang tergila-gila dengan lagu 'Love Story'-nya Taylor Swift. Sejak kita beli lagu-nya dari I-Tunes, tiada hari tanpa kumandang lagu ini (baik dari speaker maupun dari mulut mungilnya) di rumah, di mobil dan bahkan di Mesjid kala pengajian.

- Rival masuk semester terakhir di Law School. Masih jadi pengantar koran. Bedanya, sejak November tiap hari sabtu mulai kerja pk. 2 pagi sampai pk 10 siang.  Tapi hari minggu dapat jatah libur. Rival juga punya rutinitas baru, main bola, tiap sabtu sore dengan tim sepak bola Indomelb. Setelah istirahat setahun, akhirnya dia bisa main bola lagi. Meskipun tidak selincah dan setangkas dahulu, tapi skill-nya ternyata masih tersisa. Pada pertandingan lawan Indomonashis, dia hampir saja mencetak gol indah, sayang masih terbentur tiang gawang. 

- Beberapa teman juga sudah pulang. Ibrahim dan Nana, meskipun masih resmi berstatus mahasiswa, sekarang sudah lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Mayada sudah pulang, meskipun Erik-nya balik lagi untuk kursus 6 bulan dan akan lanjut kuliah di ANU. Oh, ada juga kawan lama yang baru datang, Ari Perdana alias AP. Ia bersama istri dan anaknya tiba persis minggu lalu. AP teman kuliah di UI, juga sama-sama jadi 'aktivis' KBUI waktu gejolak 98. Kini, dia ambil PhD Ekonomi di Melbourne Uni. 

Itu dulu ringkasan update Darlington. Kisah kasih lainnya akan menyusul. Semoga tidak ada jeda panjang lagi.

Oct 21, 2008

Fikhar 7 tahun

Hari ini Ranu Fikhar Sjahrazad ulang tahun ke-7. Selamat ya mblong, semoga semua mimpi-mimpimu terwujud. Semoga makin sayang sama adek. Semoga makin baik sama kawan-kawan. Semoga terus jadi anak yang riang dan murah senyum.

(dulu)

(sekarang)

Oct 20, 2008

Surprise!

Senin siang, Darlington dapat kejutan. Tete datang! Sama sekali tanpa pemberitahuan. Eyang gembira bukang kepalang. Ifa, yang sejak lama sudah menduga, tetap tertegun juga menyaksikan kehadiran Tete, dan cuma bisa bilang "I knew it.. I knew it..." berulang-ulang. Raeka jejeritan dan langsung minta gendong. Sampai Eyang cemburu, karena waktu Eyang datang Raeka terkesan tak bersemangat. Fikhar yang dijemput Tete pulang sekolah tertawa riang. Dia tau ulang tahunnya yang ketujuh, yang datang esok, bakalan meriah dan banyak hadiah.

Oct 9, 2008

Crash!

Subuh tadi, waktu sedang antar koran, Camry nabrak mobil di depan Brunetti. Lumayan keras. Bagian depan kiri cukup parah, sampe rodanya nyangkut. Kap depan agak terangkat, dan mesin mobil gak bisa distater. Padahal baru aja dua minggu lalu semua urusan mesin beres. Dan, baru hari selasa kemaren, starter-nya diganti yang baru. Mobil yang tertabrak, rusak bagian samping kanan depannya. Rodanya juga nyangkut. Tapi mesinnya masih bisa nyala. Pelajaran penting: Segera daftar asuransi waktu beli mobil.

Yang bikin tentram hati, semua kawan datang membantu. Erik dan Vince bantu menuntaskan antaran koran rute Drummond dan Leicester. Omar dan Belly bergantian menemani menunggu kedatangan towing truck. Nick, Rob, dan Vidi (para penguasa Gudang) kasih support lewat telpon dan urus pengaturan mobil buat ngoran. Kiki bantu antar jemput Fikhar ke sekolah. Bahkan, tetangga depan yang kerja di bengkel, ikut bantu periksa kerusakan dan kasih estimasi biaya perbaikan.

Ifa, meski awalnya shock, segera bisa menenangkan diri dan menguasai keadaan. Mental tahan banting dan pantang menyerahnya segera bangkit di saat krisis. Fikhar juga sangat supportive, ikut menenangkan ibunya waktu masih shock. Raeka juga turut menolong: bergembira ria sepanjang hari. Dan, untung ada Eyang, yang tanpa lelah main sama para gemblongs dari pagi sampai maghrib.

Hari ini, camry sial lagi. Tapi kami juga diingatkan kembali, banyak sahabat, kawan dan kerabat, juga tetangga yang selalu hadir dan membantu di saat-saat sulit seperti ini.

Oct 6, 2008

Idul Fitri

Rabu, 1 Oktober 2008 disepakati oleh pengurus PBrunswick sebagai hari pelaksanaan Shalat Eid di Melbourne University. Sudah puluhan tahun PBrunswick (pengajian mahasiswa Indonesia di daerah Brunswick), bertempat di Melbourne University, menyelenggarakan tradisi shalat dan halal bihalal warga muslim Indonesia yang tinggal di sekitar Melbourne City dan Inner Suburb. Kali ini yang dikorbankan sebagai koordinator tak lain tak bukan, Rifqi Assegaf alias QQ. Dampak langsungya, Darlingtonian yang memang juga pengurus pengajian makin tercebur dalam persiapan lebaran kali ini. Ifa dengan dukungan penuh dari Eyang yang sedang berkunjung ke Darlington, bahu membahu dengan tim konsumsi menyiapkan hidangan tradisional lebaran untuk 1000 orang. Rival ngurus transportasi untuk belanja perlengkapan shalat jamaah dan makan-makan. Untuk itu, kita juga nyewa mobil van raksasa buat ngangkut segala macam makanan, barang, sound system dan juga panitia.

Selain makanan yang dibawa panitia, banyak keluarga dan mahasiswa juga secara bergotong royong membawa makanan untuk dinikmati bersama-sama. Jumlah yang dianjurkan maksimal setara dengan porsi 30 orang. Jenisnya bisa macam-macam, tapi yang utama adalah: Opor, telur balado, sambal goreng ati, rendang dan sayur labu. Untuk minuman, yang disediakan oleh pantitia adalah air putih. Yang dibawa jemaah beraneka rupa, dari jus tropica fruits sampai teh kotak cap botol khas Indonesia. Pemandangan di jalur kedatangan sungguh meriah dan membesarkan hati. Parade jemaah yang datang bergelombang membawa makanan, jalan berbondong-bondong dengan busana segar-meriah dihias raut wajah yang memancarkan kegembiraan. Membikin suasana perayaan Idul Fitri serasa tak di negeri orang.

Di Darlington, proses menuju lokasi perayaan, sesungguhnya tak berjalan mulus. Rival, dan para pekerja koran yang muslim lainnya, tetap harus mengantar koran. Untuk hari itu, mereka sudah harus datang lebih awal, pukul 3 pagi, sehingga bisa selesai kira-kira pukul 5 subuh. Sayangnya, pada malamnya Rival masih harus bantu ngetes sound system di Darlington sampe pukul 11.30, jadi agak terlambat tidur. Alhasil, pagi itu Rival memecahkan kaca jendela pelanggan di 21 Queensberry. Di rumah situasinya tak kalah heboh. Ifa, Eyang dan Fikhar sibuk membujuk Raeka yang sedang nangis-rewel karena gak mau pakai baju batik yang dibawa Eyang dari Jakarta. Fikhar, yang selalu sabar di saat krisis, tak putus asa merayu adiknya untuk mau memakai baju itu. Bahkan dengan lembutnya berusaha memakaikannya, meskipun sang adik terus mengelak dan menolak.

Untungnya, ketika Rival sudah siap, Raeka berhasil diyakinkan oleh Ifa untuk pakai baju batik yang imut itu. Sehingga, Darlington gank bisa berangkat juga sebelum jam 7, tak lupa menenteng rendang ala bu Hasan dan Opor ala Ifa. Sampai kampus suasana sudah ramai. Di luar maupun di dalam sport centre, tempat acara berlangsung, sudah dipenuhi orang-orang yang sibuk bercengkerama, bersalaman dan saling mengucap maaf. Di jalur menuju ruang shalat di lantar dua, orang-orang juga antre membayar zakat. Anak-anak berseliweran di antara para jemaah ini. Termasuk Yazi, Victra dan Dhafin kawan dekat gemblongs. Fikhar dan Raeka otomatis bergabung dengan jemaah krucil ini. Eyang dan Ifa langsung menuju area hala bihalal dan makan-makan di halaman belakang. Di sana, telah terhampar 10 meja makan panjang dan belasan petugas konsumsi yang sedang mengatur hidangan. Cuaca yang hangat dan semilir angin sejuk menambah semangat para panitia yang sedang bekerja mempersiapkan acara.

Shalat Eid mulai sekitar pukul 07.45 ADT. Ruangan hall basket ball itu penuh dengan jemaah yang khusu. Khatib Eid untuk tahun ini adalah Ust. Nu'im Khaiyat, penyiar ABC chapter Indonesia, yang sudah puluhan tahun tinggal dan jadi tetua warga Indonesia di Melbourne. Dengan aksen dan ritme Melayu-Deli yang kental plus baju kuning yan menyala, Ust Nuim menyampaikan khotbahnya dalam bahasa Indonesia, dan pada bagian akhir dirangkumnya ke bahasa Inggris. Kira-kira pukul 8.40 jemaah sudah menuju ke area halal bihalal sambil saling bermaaf-maafan. Fikhar baru bergabung lagi dengan Ifa dan Eyang pada saat menjelang acara makan ini. Sebelumnya dia shalat dekat Yazi dan Dhafin.

Sepanjang para orang tua menikmati makanan, anak-anak tanpa kenal lelah lari-lari, naik turun tangga, adu cepat merayap di atas matras dan teriak-teriak bak burung gagak kalap. Entah pada akhirnya mereka sempat makan secara memadai atau tidak. Yang pasti hari itu mereka turut merasa gembira dan bersuka cita merayakan hari raya.

Seluruh acara berakhir kira-kira pukul 10.30. Selesai beres-beres kurang lebih 11.30. Makanan masih banyak yang tersisa, minuman apalagi. Panci-panci dan wadah makanan yang harus dicuci juga sudah menunggu dengan setia. Barang-barang pinjaman; tikar, sound system dan Van sewaan juga mesti segera diantar. Meskipun jadi rombongan yang paling akhir, Darlington gank untungnya bisa langsung pulang, karena tugas sudah tuntas. Eyang yang sudah menunggu dengan sabar akhirnya bisa segera beristirahat. Hanya Fikhar dan Raeka yang tetap ngotot mau main ke rumah Yazi-Victra. Walaupun Ifa sudah bilang mereka harus istirahat mereka terus bilang "we're not tired" berulang-ulang. Untungnya, tak sampai 5 menit mobil jalan, dua gemblongs itu sudah jatuh terlelap tanpa suara.

Sep 23, 2008

8th

It is our 8th anniversary today...!


Sep 16, 2008

5 Keuntungan Tambahan

Ada keuntungan tambahan sebagai pengantar koran:

1. Koran gratis. Kalau mau, tiap hari bisa bawa pulang semua harian yang beredar di Melbourne; The Age, Herald Sun, Australian, Financial Review, Sing Tao (Chinese), Neos Kosmos (Greek), Il Globo (Italian), dan satu koran Arabic. Saya biasanya bawa 2 koran saja The Age dan Herald Sun.

2. Majalah gratis. Setiap minggu, majalah-majalah yang nggak laku di toko-toko dikembalikan ke Agen distribusi untuk di data dan kemudian dibuang. Biasanya, para pengantar koran 'mungut' majalah-majalah ini sebelum diangkut ke pembuangan. Ada banyak jenis dan ragamnya. Dari yang isinya gossip, masakan, mobil, life style, sports, science, current issues, kesehatan, design, home and garden, yang porno sekali dan agak porno, hobbies, sudoku & TTS, majalah anak-anak, sampai majalah-majalah yang tidak reguler, seperti Majalahnya-The Age. Yang dibawa pulang ke Darlington biasanya, The Economist, Majalah Gossip, Time (jarang ada), Discovery, National Geography, Food Magazines, Home and Garden, dan majalah anak-anak (Dora, Strawberry Shortcake, dll).

3. Hapal seluk beluk jalanan. Karena tiap hari kelalang-keliling nganter koran, dan kadang-kadang iseng ngubah jalur antaran biar gak bosen, para tukang koran jadi hapal betul alamat dan jalan-jalan tikus. Terutama di radius 'round' antarannya. Khusus untuk para pengantar missed (rumah yang lolos dari antaran reguler; bisa karena lupa, dicolong orang atau pemilik rumah gak berhasil nemuin karena si koran ngumpet di semak-semak), biasanya hapal jalan-jalan di hampir semua rute koran. Mulai minggu depan, tiap hari minggu, saya akan bertugas sebagai missed deliverer.

4. Olahraga pagi. Ada 5 cabang olahraga utama yang dilakoni tukang koran: (a) Angkat beban, saat loading koran; (b) Ketangkasan menyetir mobil, terutama parkir paralel, mundur di gang sempit, putar U di jalan besar; (c) Lari sprint, ketika koran yang diantar harus masuk ke dalam mailbox atau kolong garasi; (d) Lempar rolled, ada empat sub cabang, Atap Mobil, 45 Derajat, Sisi Kanan, dan Turun-mobil-lantas-lempar; (e) Lempar Wraps, sub cabangnya Lempar ke kolong, Lempar ke Depan Pintu, dan Lempar se-Jauh2nya. Khusus untuk petugas Subbies dan return, yang nganter ke toko-toko dan ngambil sisa koran, ada cabang tambahan, angkat-dorong, yakni mengangkat puluhan bulk koran dan mendorongnya dengan troley.

5. Latihan empati dengan pekerja subuh lainnya; cleaner, barrista cafe, tukang sampah, tukang sapu jalan (pake mobil), Satpam, dan para tukang angkut.

Sep 8, 2008

Belajar Baca Al Quran

Om Kiki jadi favorit anak-anak sejak beberapa minggu terakhir. Sejak dia jadi pendongeng kisah nabi-nabi dan sejarah agama Islam di acara mingguan belajar baca Quran untuk anak-anak. Bagi orang dewasa, terutama kawan-kawannya dekatnya, Om Kiki punya track record yang kurang memuaskan sebagai pencerita, penggosip apalagi pendongeng. Padahal bila dilihat dari kriteria utama tukang cerita, sesungguhnya dia memiliki semuanya: passionate, value oriented dan great sense of humors. Kekurangannya cuma satu, yang sayangnya sangat mendasar: ia pelupa. Sehingga, dalam banyak situasi ketika ia tengah antusias bercerita dan pendengar mulai terhanyut, sekonyong-konyong hening datang, cerita terputus dan ketegangan menunggu kilmaks berganti dengan rasa jengkel sekaligus penasaran bukan kepalang. Namun, lama kelamaan, yang justru ditunggu-tunggu dari Kiki-bercerita adalah momen anti-klimaks itu sendiri, yang pada akhirnya jadi trade mark orisinilnya.

Di acara Taman Pengajian Al Quran mingguan ini, sesi "Om Kiki Bercerita" diletakkan di akhir acara. Sebagai sesi yang ditunggu-tunggu oleh anak-anak. Terutama Raushan dan Raeka fans beratnya. Pembukaan TPA adalah shalat maghrib berjamaah yang langsung dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan menu special bikinan tuan rumah yang dapat giliran. Setelah itu, baru masing-masing anak akan memegang juz 'ama dan belajar membaca Al Quran dengan panduan guru khusus atau orang tua yang ikut bergabung hari itu. Nah, tugas Om Kiki adalah pasca semua acara tersebut berlangsung. Om Kiki tetap masih sering lupa dengan detail dan alur cerita, bedanya para pemirsa cilik ini tak sedikitpun terganggu dengan itu, terhanyut passion Om Kiki mengisahkan sepak terjang nabi-nabi sepanjang zaman.

Rutinitas mingguan ini sudah berlangsung kira-kira tiga bulanan. Lokasinya bergiliran di rumah-rumah peserta belajar. Peserta utamanya adalah: Yazi, Izzat, Fikhar, Victra, Raushan, Raeka dan Rasha. Ada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi sukarelawan mengajar Taman Pengajian Al Quran di area kampung Indonesia di northern suburb. Untuk grup ini, pengajarnya Mba Daan. Kalau dia sedang berhalangan mengajar, para orang tualah yang bertugas menggantikan. Beberapa minggu belakangan, para orang tua yang lebih banyak berperan.

Acara mingguan ini sekaligus jadi ajang kumpul-kumpul, gosip dan makan-makan bagi para orang tua. Kadang yang lebih bersemangat dan sibuk menyambut hari H adalah mereka. Sejak pembukaan TPA di rumah Uni Dina, hidangan yang disajikan langsung nyangkut di standar tinggi. Hari itu, semua peserta menyantap soto betawi ala Howson Street. Acara di Darlington baru berlangsung satu kali, dengan menu utama Iga Garang Asem ala Tumifa, yang langsung terkenal kelezatannya seantero melbourne northern inner suburb, sampai menjadi menu andalan pengajian PBrunswick menjelang Ramadhan kemarin.

Kiki dan Oci, di rumahnya yang baru di Blyth, menghidangkan ayam bumbu balado ijo ala Oci. Baim dan Nana tak kalah seru, menyajikan hidangan jepang + korea. TPA terkini berlangsung di rumah Uni Dina, sekalian buka puasa bersama, dengan sajian andalan Soto Padang plus macam-macam penganan pembuka.

Alhasil, acara TPA ini memang jadi multiagenda. Sambil anak-anak belajar agama dan Al Quran, para orang dewasa mengasah kepekaan sosial melalui gosip-gosip mutakhir dan memanjakan lidah dengan makanan yang sedap dan beraneka rasa.

Sep 1, 2008

Ramadhan di Musim Semi

Ramadhan datang hari ini, persis bersama pembukaan musim semi. Kembang sakura, di sepanjang pedestrian kampung coburg, mekar berbunga menyambutnya. Ini kali pertama, sahur tanpa iringan adzan subuh dan ocehan para pelawak/ustadz di televisi. Santapan sahur pembuka: kambing panggang kiriman kawan, Iga garang asem ala Ifa bawaan pengajian dan juz apel segar. Kami berdua saja. Fikhar dan Raeka masih lelap, agak kelelahan. Kemarin mereka pergi sampai malam, ikut pengajian dan nonton Ibunya menari saman di Festival Indonesia.

Sepulang dari sekolah, Fikhar bilang bahwa dia puasa seharian, dan protes kenapa dia dibekali makan siang. Ini kali pertama juga Fikhar puasa penuh, sampai maghrib tiba. Buka puasa pertama diisi dengan hidangan es buah peach-lecci, pizza tipis kering dan kambing panggang ala Ifa. Khusus untuk Fikhar, ada telur dadar kesukaannya. Raeka yang juga sudah ribut menjelang buka puasa sudah siap-siap dengan dua telur rebus bulat favoritnya. (Saat sedang asyik berbuka, datang satu nampan besar daging kambing dan ayam panggang dari tetangga Lebanese depan rumah. Ifa langsung gelisah: gimana ngabisinnya dan gimana ngebalesnya!)

Ramadhan datang syahdu di sini. Dihias semarak sakura musim semi. Teriring doa dan salam dari Darlington untuk orang-orang tersayang di tanah air...

("Selamat Menjalankan Ibadah Puasa!")

Aug 25, 2008

Jalan-jalan Bersama Eyangs

Ini beberapa foto selama Eyangs berlibur 2 minggu di Melbourne, 5-17 Juli 2008.


(Botanical Garden)

(Naik Kereta Kuda di City)

(Mt. Gweniere)

Garage Sale di Darlington


Sabtu pagi sampai sore, di tengah gerimis dan terik matahari yang bergantian, berlangsung garage sale di Darlington house. Semua barang peninggalan mantan penghuni Darlington, ditambah barang-barang Indomelb yang disimpan di gudang mba Khuldi, plus seluruh isi ex rumah Ibeth di jual di sini. Dari tempat tidur IKEA sampai gayung plastik. Dari yang harganya $50 (fridge) sampe yang "ambil aja sebanyak-banyaknya" (perlengkapan dapur).

Yang jualan makanan sarapan pagi lumayan banyak. Ibu-nya Kanti-Omar, yang sedang berkunjung untuk menemani anaknya yang sebentar lagi melahirkan, jual lontong sayur ala padang, $4 pake telor. Zubeth bikin bubur kacang ijo, bayar se-relanya. Rifki Akbari buat nasi udang balado untuk makan siang. Ada juga yang jualan spring roll $3/4 buah. Gak heran, pengunjung udah ramai sejak pagi-pagi. Sambil sarapan, belanja barang. Suhu 6 derajat tak menghalangi kegembiraan orang-orang hari itu.

Siangnya, ketika transaksi sudah mulai mereda sebagian pengunjung berdiskusi tentang masa depan organisasi Indomelb di halaman rumah. Gerombolan krucil yang datang juga cukup banyak, dan mereka semua --seperti biasa-- menjadi penguasa area dalam rumah. Fikhar dan Raeka luar biasa senang hari itu, sudah lama mereka bermimpi mengadakan garage sale di rumah sendiri.


Seluruh acara hari itu selesai sekitar pukul 3an. Hasil penjualan barang cukup lumayan. Para penjaja makanan tersenyum senang. Para pengurus dan simpatisan Indomelb pulang dengan banyak gagasan dan mimpi baru. Teman-teman dekat (kel. Assegafs dan kel. Dina) masih lanjut bercengkerama sampai pukul 5. Sekalian merencanakan perjalanan ke Carribean Market esok harinya.

Aug 22, 2008

Working Visa, 15 Menit Saja...

Sepulang dari ambil upah mingguan, saya tiba-tiba terpikir untuk mulai mengurus working visa. Sebetulnya tidak ada kebutuhan yang mendesak untuk mengurus itu sekarang. Sebab, kerjaan yang sekarang juga gak menuntut buruhnya untuk punya working visa dahulu. Apalagi di kontrak ada aturan yang bilang bahwa Ausaid student awardee hanya bisa dapat visa kerja bila sudah menjalani satu semester dengan prestasi baik dan dapat surat ijin dari universitasnya. Kerumitan birokrasi yang cuma bikin tambah malas. Buat Ifa, visa kerja memang agak berguna, karena bisa jadi tambahan amunisi untuk banyak urusan yang berkaitan dengan benefit dan segala macam potongan (child care, after school care, dan care-care lainnya).

Menjelang sampai di rumah, sekonyong-konyong hp menyalak tanda sms datang. Rupanya Uni Dina: "Val, udah tau blm hr ini bs bkn workg visa d kampus?". Pesan pendek yang bikin gairah hidup bangkit. Wah, kebetulan be'eng... Berarti kan ga usah ngurus dengan prosedur yang panjang. Segera aja kasih tau kabar ini ke Ifa, dan rencana hari itu langsung bergeser: Ke kampus dulu bikin working visa dan bayar bill listrik di kantor pos, terus jemput Raeka di Moreland Kindergarten, and lantas cari pohon bunga $2 di perapatan moreland, terakhir baru jemput Fikhar di sekolah.

Ifa sebetulnya agak merasa berat untuk jalan-jalan ke luar rumah. Sudah dua hari ini dia gak enak body. Badannya lemes terus dan kepalanya sakit gak karuan. Apalagi hari ini dinginnya luar biasa menyengat. Mungkin menjelang penutupan winter, jadi si angin dari kutub menyerang daratan secara jor-joran. Tapi, dengan semangat Darlingtonian, Ifa memantapkan hati dan menguatkan kaki melangkah ke kampus Parkville. Sampai kampus untungnya langsung dapat tempat parkir gratis 1P, alias satu jam saja. Langsung aja kami berdua menuju International Center.

Sampai lokasi, ternyata sepiiii sekali. Hanya ada tiga orang di sana, semuanya pegawai imigrasi. Yang seorang menyapa kami dan memberi petunjuk proses mendapatkan working permit visa: Pertama-tema isi form 157A, untuk family (student and spouse) cukup satu form saja. Setelah itu serahkan formulir ke pegawai yang menginput data. Karena Rival mahasiswa yang dibiayai Ausaid, kami tidak perlu mengeluarkan $60 untuk biaya administrasi. Habis itu, dalam waktu 15 menit, paspor kami berdua sudah diisi dengan sticker visa yang baru. Ya' betul! Limabelas menit saja. Ifa, yang sebelumnya lesu dan agak murung, sontak mendadak sumringah ketika melihat sang pegawai perempuan yang mengisi data menyatakan bahwa urusan kita sudah tuntas saat itu juga, tak perlu tunggu kabar apapun lagi.

Mungkin karena sudah terbiasa dengan birokrasi yang lelet dan penuh curiga, kami berdua jadi senang luar biasa dapat perlakuan seperti itu. So, kita segera telpon Kiki and Oci untuk kasih berita/informasi itu. Sayangnya, Kiki gak dapat perlakuan yang serupa dengan kami. Dia diharuskan menunjukkan surat ijin dari universitas. Uniknya, surat itu tak jadi syarat buat urusan visa kami. Ternyata, sisi "tak konsisten" birokrasi masih muncul juga di sini.

Aug 18, 2008

Indonesian Day at Moreland Primary School

Dalam rangka Indonesian Day, Moreland Primary School (tempat Fikhar and Raushan sekolah) menyelenggarakan special assembly. Sekolah ini memang getol merayakan keberagaman budaya. Terutama karena paling kurang ada 35 bangsa yang jadi murid di sekolah ini. Penampil utamanya adalah Saman Dancer Indomelb plus orang tua murid Indonesia, termasuk Ifa dan Oci.

pre-performance

Awalnya Ifa ragu untuk ikutan tampil, tapi akhirnya setelah ikut latihan pertama di Parkville, dia jadi semangat untuk bergabung. Hanya ada waktu dua minggu untuk latihan. Beberapa dari mereka sudah pernah tampil di acara-acara lain di Melbourne. Jadi hanya yang baru-baru saja yang mesti menghapal gerakan dan lagu yang harus dinyanyikan.

Selama latihan Raeka selalu ikut nonton. Setelah ikut 3 kali latihan dia sudah mulai hapal lagu yang didendangkan oleh para penari. Di rumah dia mulai sering banget nyanyiinya... "Salamualikum kami ucapkan/para undangan yang baru tiba/karena salam nabi kan sunnat jarota mummat tanda mulia...". Dia bahkan udah bisa mengikuti beberapa gerakan tarinya, tentunya dengan muka yang lucu. Alhasil selama seminggu terakhir, suara dia dan Ifa yang lagi menghapal lagu, mengisi rumah Darlington dengan nuansa dan alunan saman.

Latihan terakhir di rumah Darlington, hari minggu siang kemarin. Semenjak pagi Ifa udah siap-siap masak siomay. Hari itu juga pas 17 Agustusan, jadi sebagian warga Indonesia upacara dan makan-makan di Konsulat Jenderal dahulu. Sekitar jam 2an, ketika Rival lagi asyik tidur siang, para penari udah mulai berdatangan. Jam 3an mereka mulai menari di ruang tengah, ditonton dengan histerical oleh sejumlah anak-anak (Raushan, Izzat, Ayu, Amel, Rasha, Fikhar and Raeka). Karena hari terakhir sebelum acara, kali ini mereka latihan sampai menjelang malam. Suasana rumah Darlington jadi meriah.

D-Day

Pagi-pagi, para penari udah kumpul di Moreland PS, untuk pakai kostum dan dress rehersal. Sekitar jam 9.10 murid-murid, guru-guru dan para orang tua mulai kumpul di Assembly Hall. Ayu dan Amel (anak-anak Dwie dan Ika) yang bertugas sebagai mc mulai mengumumkan acara Special Assembly hari itu.

Setelah Australian Anthem, dikumandangkanlah Indonesian Anthem yang sudah disiapkan oleh Tim Indomelb (Zubeth dan Fabian). Bendera Merah Putih juga dikibarkan di pagar lantai atas. Ada rasa haru dan bangga juga mendengar Indonesia Raya di negeri seberang.

Usai Indonesia Raya yang cukup membangkitkan suasana, Saman Dancer menampilkan rangkaian tariannya. Saman Dance terdiri dari beberapa set gerakan. Yang ditampilkan kali ini ada 5 set. Di antara tiap set selalu ada jeda, yang memberikan kesempatan kepada penonton untuk memberikan tepuk tangan gemuruh. Terlihat sekali para murid-muri SD dari berbagai bangsa itu terbengong-bengong kagum dengan tarian yang disajikan. Guru-guru dan orang tua yang hadir juga kelihatan antusias dan tercengang-cengang dengan kekompakan dan semangat para penari. Latihan yang hanya lima kali ditutup dengan performance yang luar biasa dari para penari.

Setelah Saman yang bikin heboh ruang Assembly, ada penampilan dari Indonesian Choir asuhan Mba Amelia. Penyanyi gabungan antara anak Indonesia dan anak-anak bangsa lain. Ada dua lagu yang dinyanyikan; "Sorak-Sorak Bergembira" dan "Rasa Sayange". Lagu pertama untuk memperingati Kemerdekaan Indonesia, lagu kedua disebut sebagai "the famous Indonesian folk song". Sepertinya ini bagian dari upaya sistematik untuk reclaiming lagu "rasa sayange" yang sempat diklaim sebagai lagu rakyat Malaysia.

Special Assembly usai sekitar jam 10an. Para penari kemudian berfoto-foto dengan para murid dan guru. Juga dengan murid-murid para orang tua warga Indonesia yang hadir hari itu. Ifa kelihatan puas dan gembira, walaupun ada gurat lelah juga di mukanya.

Sudah lama Darlington gank tak merayakan 17 Agustusan. Terutama karena hari itu sering kehilangan maknanya bila melihat nasib bangsa dan tanah air saat ini. Hari ini kami peringati 17an dengan khusu' dan gembira bersama bangsa-bangsa lain di negeri bawah angin. Dirgahayu Republik Indonesia...

Aug 16, 2008

Fikhar's Hobbies

This is a list of Fikhar's 21 most favourite hobbies:
1. Playing with the computer
2. Watching television
3. Playing with toy cars
4. Going to the beach when its summer
5. Playing in the snow in winter
6. Playing with my friends in my school; Dhafin, Jonah, and Jie
7. Playing with Raeka
8. Going to the movies
9. Playing with Yazi and Victra
10. Shopping with Tete
11. Playing in the park and swimming
12. Eating omelette
13. Going somewhere, like DFO (Direct Factory Outlet), Barkly Square and High Point
14. Being in my house because our house number is 14
15. Going to school
16. Going to Pengajian
17. Having a garage sale
18. Playing with my scooter
19. Reading books
20. Drawing
21. Having my birthday because my birthday is on 21st of October!!!

Aug 4, 2008

Dito Pulang...

Dito akhirnya pulang ke Jakarta, Rabu 23 Juli lalu. Setelah tertunda-tunda karena nilai ujian, akhirnya semua urusan beres sudah. Sejak senin Dito kami paksa nginep di Darlington. Supaya hari terakhirnya di Melbourne ada di rumah, bukan di kos. Dito juga menyambut dengan senang, alasannya sederhana: biar bisa tidur di kasur empuk dengan hembusan semilir angin hangat dari heater. Fasilitas dasar yang gak ada di apartemennya yang mewah di pusat kota.

Selasa pagi, Dito ikut ngoran. Nostalgia terakhir sebelum hengkang. (Dito dan Rival adalah dua orang yang sangat fanatik dengan pekerjaannya sebagai tukang koran. Mereka bisa ngobrol soal teknik melempar dan membahas alamat rumah selama berjam-jam dengan penuh antusias.) Waktu di gudang koran, Dito juga sekaligus pamitan dengan kawan-kawan sesama buruh pengantar koran. Tak lupa juga dengan Nick sang majikan.

Setelah loading, pagi itu, Dito bertindak selaku driver/pelempar dan Rival co-driver/penyelip ke mail box. Sepanjang ngoran tak habis-habisnya mereka berdua saling memuji teknik lemparan dan berbagi kisah pengalaman ngoran. Kalau saja ada candid camera, pasti suasana di cockpit camry itu sungguh aneh mengharukan: dua pria dewasa, suah menikah, umur 30an berbincang dengan girangnya tentang hal yang membosankan, saat subuh di tengah dinginnya winter.

Pada situasi itulah terjadi insiden tak terduga. Di rumah No. 163 Drummond St. Dito berhasil melempar age, fin dan sun rolled dengan sukses, diiring decak kagum Rival. Setelah itu giliran rumah No. 169, dengan semangat dan tanpa keraguan Dito menambatkan mobil dengan posisi menceng ke kiri di depan rumah itu. Lantas dengan sepenuh hati dan sekuat tenaga menyambit age rolled dengan kencang ke arah pintu berwarna hijau. Saat menanti momen jatuhnya si koran, selintas kami berdua melihat sekelebat bayangan orang di pintu itu, berusaha menangkis koran yang meluncur deras dari tangan Dito. Jantung kita berdua sontak berhenti: wadaw, ternyata ada sang penghuni berdiri di depan pintu, sedang bersiap bawa anjingnya jalan-jalan pagi.

Bapak tua itu kontan berteriak marah sambil mengacung-ngacungkan tangannya yang sedang memegang tali kekang anjingnya. Samar-samar terdengar "how dare you... Do you want to kill me.. You've ...", gelegar marahnya segera menghilang di tengah pagi buta, sebab dengan tangkas bergegas Dito tancap gas pergi dari rumah itu, sambil mengangkat tangan dan mengucap "sorry sir...sorry...". Dengan jantung masih deg-degan, mereka melanjutkan antar koran pagi itu. Buat Dito, ini penutupan antar koran yang sangat berkesan. (Keesokan paginya ada notes dari Nick di lembar list pelanggan, "Be careful with 169 Drummond st. You hit the man yesterday, and broke the garden light on the weekend.")

Pulang ngoran, mampir dulu ke apartemen Dito di city. Ambil kunci dan ambil pakaian ganti. Di sana kenalan dengan penghuni baru pengganti Dito. Namanya Mulpi, anak Indo lulusan IPB yang udah dapet PR. Habis itu balik ke Darlington.

Menjelang sore Rival and Dito ke Cauffield, ambil pesanan Ika, yimca sedap buatan Mba Ati koki restoran Nusantara. Sambil menuju coburg, jemput Aria (PSHK) dulu di QV Mall di city. Aria lagi dateng ke Melbourne menemani rombongan hakim-hakim Mahkamah Agung. Di sana ternyata ketemu Mulpi juga yang lagi belanja di safeway. Alhasil, kita berempat beranjak menuju Darlington, untuk berkumpul bersama yang lain dalam rangka melepas kepulangan Dito ke Indo.

Sampai Darlington udah ada Kiki and Oci. Gak lama dateng Erik, Mayada and Belly (adik Mayada yang baru sampe di Melb). Baim juga kemudian dateng sama Izzat. Disusul Omar dan Kanti yang bawa hadiah action hero buat dibawa pulang sama Dito. Kami semua makan malam pasta buatan Ifa, plus pizza halal yang diantar. Malam itu malam terakhir Dito di Melb, dan menjelang bubaran dia dapat informasi paling meaningful sepanjang pertemanan kita: Baim adalah aktor dibalik jubah "Kapten Perkasa" di acara Bursa Komedi awal 90'an.

Rabu subuh Dito udah bangun, tapi dia gak ngoran lagi pagi itu. Sebab masih harus packing beberapa barangnya. Usai Rival ngoran dan sarapan, Rival dan Dito berangkat ke Tulamarine Airport dengan camry. Mampir sebentar ke Brunswick Rd jemput Kapten Perkasa di rumahnya.
Sekitar jam 10.30 sampe di Bandara. Abis check-in sempat ngobrol-ngobrol dulu di luar, bahas rencana Dito di Jakarta, sambil sesekali mengulang kisah pembuatan tayangan "Kapten Perkasa".

Jam 11an, kami melepas Dito di Gate 4. Di perjalanan pulang ke Coburg terkenang cerita pertemanan selama 7 bulan terakhir...

Sampai ketemu lagi Bro! Kami tunggu kedatangannya tahun depan di Darlington...

Tamasya ke Lake Mountain

Akhirnya, Sabtu, 2 Agustus tiba juga. Ifa bangun pagi-pagi sekali, untuk goreng spring roll dan perkedel yang udah disiapinnya sejak Jumat siang. Rival juga bangun lebih pagi, supaya lebih cepet nganter korannya. Ini hari penting, karena kami akan bertamasya ke Lake Mountain. Bersama Darlington Gank ada rombongan Kel. Assegaf minus Nana, Kel. Uda Edi, Kel. Erik plus teman adiknya, Mas Jay, dan tiga dara dari Lang St. (Ika, Najma dan wanita pakistan yang sampe sekarang kita gak tau namanya). Total jenderal semuanya ada 23 orang, nyewa tiga mobil 8 seater.

Jam lapan kurang seperempat, rombongan Darlington menuju ke rumah Uda Edi di Brunswick West. Setelah itu Rival, Uda Edi, and Baim, ke City untuk ambil mobil sewaan. Jam 9.10 semua tim udah lengkap di depan rumah Baim. Sepuluh menit kemudian tiga mobil sudah meluncur menuju Lake Mountain, lewat Eastern Freeway.

Kami semobil dengan Kel. Uda Edi. Fikhar dan Raeka yang udah excited dari pagi, semakin kegirangan sepanjang perjalanan. Tiga anak duduk paling belakang, Yazi, Fikhar dan Raeka. Victra duduk sama Ibunya dan Tante Ifa (Mrs. Lady, kata Yazi) di tengah. Di jalan mereka ngoceh terus gak berenti-berenti. Meski dua ibu-ibu di kursi tengah terus menerus nyuruh para kurcaci ini tidur, tetep aja mereka gak nurut. Ibu-ibu ini juga gak pantang lelah menyuapi anak-anak dengan ransum yang disiapin dari rumah: spring roll, roti sosis, kacang, cokelat dan biskuit. Taktik ampuh supaya ketika sampai perut anak-anak udah lumayan penuh dan bisa langsung main tobogan*.

Selain ngobrol, anak-anak juga nyanyi-nyanyi. Kalau liat lambs lagi merumput mereka langsung nyanyi "Merry has a little lamb". Raeka juga sering berinisiatif nyanyi sendiri. Beberapa lagi dia dendangkan, di antaranya "rain, rain go away..". Kalau udah mulai bosen dan kecapean, mereka juga mulai bertengkar. Dan setelah satu jam perjalanan, Fikhar mulai nyebelin karena gak berhenti nanya berapa lama lagi kita akan sampai.

Setelah sejam setengah, kita berenti sebentar di Healsville. Sebagian ke toilet, sebagian meregangkan badan dan kaki. Kota ini menarik banget. Kecil, teduh dengan jalan mungil yang berkelok-kelok. Agak beda dengan tipikal kota kecil Australia pada umumnya yang kotak-kotak dan agak gersang dengan jalan yang lebar-lebar. Di kota ini juga ada kebun binatang yang cukup besar. Gak heran kalau suasananya ramai dan ekonominya berkembang.

Tak sampai satu jam perjalanan setelah beristirahat, kita sampai di Lake Mountain. Salju sudah banyak di sepanjang sisi jalan 10 km menjelang pos tiket. Hujan juga mulai turun, sayangnya bukan snowflake. Hari ini rupanya banyak sekali pengunjung yang datang. Parkiran di dekat resort sudah penuh, sehingga kita harus parkir 2 km di bawah dan naek shuttle bus ke atas. Anak-anak sudah gak sabaran. Fikhar, Raeka dan Raushan udah mulai maen salju di parkiran itu.

Turun dari shuttle bus, sebagian menuju tempat penyewaan. Untung aja kita udah sewa tobogan dan beberapa boots anak-anak di City kemarennya. Jadi gak perlu antre dan anak-anakbisa langsung beraksi dengan tobogannya. Tanpa peduli bahwa tobogan run-nya masih harus jalan lagi ke dalam, Fikhar dan Raeka dengan girang langsung meluncur dengan tobogan di sekitar parkiran. Raeka keliatan lucu banget dengan balutan baju salju warna purple, pink and hejo, dengan sarung tangan merah and boot coklat. Fikhar pake baju salju juga dengan warna biru muda, juga dengan sarung tangan merah dan boot coklat.

Masuk ke dalam ada tobogan run yang udah penuh orang. Di pinggir run ada perempuan yang teriak-teriak pake toa nyuruh orang-orang dewasa supaya gak jalan di tengah run, "walk on the side, walk on the side...". Fikhar, Yazi, Raeka dan Victra tanpa ragu langsung meluncur di sana. Sayangnya hujan makin deras. Gak lama Raeka udah mulai kedinginan dan kecapean. Dia mulai nangis. Rupanya, setelah di bawa Ifa ke cafe, baru ketahuan kalo kaos kakinya udah basah kuyup. Setelah kira-kira 6 kali meluncur Fikhar juga mulai kecapean. Dia mulai sibuk nyari site untuk bikin snowman.

Setelah dua jam-an, hujan kadang berenti, kadang deres. Akhirnya Ifa dan Uni Dina bawa anak-anak ke cafe. Minum coklat dan makan chips, sambil mengeringkan diri di heater. Mereka semua ngumpul di pojokan, anak-anak nongkrong di atas heater, persis di bawah peringatan "do not sit and put your wet clothes on the heater". Berkali-kali si petugas yang keliling meminta anak-anak turun dari heater, tapi berkali-kali juga mereka kembali nonkrong di sana dan para orantuanya cuma cengar-cengir saja (lha gimana...orang pada basah, daripada sakit hayooo...).

Sekitar jam setengah empat snowflake mulai turun. Anak-anak mulai keluar lagi maen ujan salju dan lemar-lemparan bola salju. Ifa, Dina dan Oci, yang sebelumnya jagain anak-anak mulai main tobogan. Anak-anak yang udah rada kering, mulai basah lagi...

Setelah puas sekitar jam setengah lima-an, kita siap-siap pulang. Butuh 20 menitan untuk ganti pakaian di tengah suasana anak-anak yang udah kecapean dan kedinginan. Akhirnya, jam 5 kita turun. Jalanan mulai gelap dan gerimis. Sepanjang perjalanan pulang anak-anak kembali mengoceh tak henti-hentinya padahal para orangtuanya sudah cukup tepar. Ifa lalu mengacungkan tangannya ke arah Fikhar, pura-pura memegang remote control. Fikhar terheran-heran dan bertanya,"What are you doing?" Dijawab Ifa,"I'm pressing the pause button." Tanpa ragu-ragu dijawab lagi sama Fikhar,"Oh, no...that's the rewind button."

Di bawah kita sempat berenti sebentar di desa persis di kaki gunung, karena kanvas rem mobil yang dipake Erik berbau gak enak. Tips penanganannya mudah: cuma disiram air dan ditunggu sepuluh menit.

Malam itu kita semua makan ayam Nandos di Boxhill. Ifa makan kuskus favoritnya dan anak-anak makan ayam panggang. Semua keliatan heppy, walaupun jalannya agak tertatih-tatih karena lelah dan pegel-pegel akibat maen tobogan.

Pukul 9 malam, Darlington gank sudah sampai rumah. Cape tapi senang.

----------------------------------------

* Tobogan = papan luncur. Bentuknya ya seperti papan. Terbuat dari plastik atau fiber. Besarnya sekitar 1.20 x 50 cm. Di bagian depan ada tali panjang, seperti kekang kuda. Di kiri dan kanan depan ada tali pendek, layaknya handle. Penggunaannya, bisa didudukin atau dipakai berdiri seperti skateboard. Tali kekang berguna sebagai kendali dan penjaga keseimbangan. Sewanya $8 sehari-semalam.

Jul 5, 2008

Eyang Dataaang...

Hari ini, Eyang Ti dan Eyang Lik datang dari Jakarta. Berangkat dari Jakarta kemarin malam dengan Qantas via Sydney. Bersama Eyangs, turut rombongan pesanan Ifa dan anak-anak; cobek, alat pijat, blender, vcd. Eyang juga bawa berbagai titipan dari Pasar Jumat.

Jul 4, 2008

Raeka Belajar English

Raeka lagi aktif-aktifnya berbahasa Inggris. Kira-kira sejak dua bulan lalu, dia mulai ngoceh beberapa patah kata bahasa Inggris. Raeka gak ragu sama sekali melafalkan kalimat bahasa Inggris, meskipun yang terucap tak karuan maknanya. Tidak seperti ayah, yang gampang macet kalo mulai speaking english.

2 minggu belakangan, english Raeka makin jelas lafal dan maknanya. Misalnya, dia dengan fasih mengucapkan "I don't know" dan "You forgot to bring my jacket" di sela-sela obrolan. Yang kadang bikin geli, aksen Raeka Aussie banget. Kata "I" diucapkan dengan mulut yang membulat dan bunyinya terdengar seperti kata "oi". Raeka juga selalu mengucapkan kalimat english dengan gaya yang ekspresif seperti; mengangkat bahu sambil mengangkat kedua lengan terbuka setinggi dada, plus muka "nyebelin", ketika mengatakan "I don't know".

Ketika tadi menelpon Andung di Jakarta, Raeka langsung ngoceh dalam bahasa Inggris. Meskipun malah jadi buat Andung bingung, Raeka terus aja ber-english ria. Sama teman-temannya pun, baik yang Indo maupun yang lokal, Raeka sering berbahasa Inggris. Sama sekali dia gak pusing kalau teman-temanya gak ngerti dan penuh tanda tanya. Di acara UMAC, Raeka bahkan bikin Raushan agak suntuk karena saat mereka duduk berduaan Raeka ngoceh tak henti-henti dalam bahasa Inggris yang lumayan gak beraturan namun dengan nada yang sangat meyakinkan. Plus, aksen aussie-nya yang super kental.

Sebentar lagi, Raeka akan bicara dalam bahasa Inggris sepenuhnya. Dan mungkin akan mulai kesulitan berbahasa Indonesia seperti abangnya. Saat ini, kami sedang menikmati usahanya.

Fikhar Holiday Program

Sejak 30 Juni, sekolah Fikhar sudah mulai liburan semester. Sekolah prekindi Raeka yang dikelola community di Moreland juga menghentikan aktivitasnya. Selama dua minggu, Fikhar akan ikut holiday program, aktivitas untuk anak-anak SD selama liburan. Program ini dikelola oleh pemerintah kota (untuk wilayah kita, dikelola moreland city council), dan diadakan di sekolah-sekolah unggulan di daerah tersebut. Untungnya sekolah Fikhar masuk daftar penyelenggara holiday program, jadi tak perlu pindah tempat untuk ikut program ini.

Tiap anak yang ikut program, boleh datang ke sekolah mulai pukul 08.00 pagi dan paling lambat dijemput pukul 18.00. Setiap hari ada kegiatan utama yang berbeda di sekolah. Fikhar terdaftar untuk 5 hari program, yang dia pilih sendiri. Minggu ini Fikhar ikut 3 hari. Hari Selasa, kegiatan utama Fikhar adalah craft creations. Hasilnya, cermin kecil yang unik dengan dekorasi warna-warni dan hiasan gambar koala. Hari kedua, Rabu, Fikhar membuat lukisan mobil sport dari pasir warna-warni. Dia juga bawa pulang beberapa bahan dan mengajari Raeka membuat lukisan pasir di rumah. Hasil gambar Raeka gorrila berwarna pink.

Hari ini, Jumat, Fikhar berkunjung ke Don Bosco Youth Centre di Sydney Road untuk main trampolin, main billiard, dan bermain-main dengan kelinci. Ada sepasang kelinci di sana; yang putih, betina, namanya Snowy, dan yang hitam, jantan, bernama Blacky. Fikhar senang sekali bisa memangku Snowy, karena bisa mengelus-ngelus dan mengangkat kupingnya.

Senin depan adalah hari yang ditunggu-tunggu Fikhar. Sebab, seluruh anak-anak akan pergi ke Northland untuk menonton film Kung Fu Panda. Sudah beberapa kali Fikhar kepingin nonton bioskop, tapi sampai sekarang belum terwujud juga impiannya. Hari terakhir holiday program untuk Fikhar adalah Rabu. Pada hari ini menu utamanya adalah "cartoon workshop for Kids". Ada presenter khusus yang didatangkan untuk mengisi acara ini, namanya Mark Guthrie. Dia freelance cartoonist terkenal di UK dan Australia. Karyanya termasuk Little Mermaid 2 dan Peter Pan: Return to Neverland.

Untuk ikut holiday program ini, tiap anak tiap harinya harus membayar A$36. Tapi dengan potongan CCB, Fikhar cuma harus bayarA $22 untuk seluruh program.